JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID – Presiden Prabowo Subianto meminta percepatan pengembangan teknologi pengolahan sampah skala mikro sebagai solusi konkret menghadapi krisis sampah nasional yang kian mengkhawatirkan.
Arahan tersebut disampaikan dalam rapat terbatas di Istana Kepresidenan, seiring tingginya timbulan sampah Indonesia yang telah menembus puluhan juta ton per tahun, sementara tingkat pengelolaannya masih di bawah 30 persen. Pemerintah pun menargetkan uji coba teknologi ini mulai dilakukan pada 2026 di tingkat kelurahan dan desa.
Dalam pertemuan tersebut, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menjelaskan bahwa Presiden Prabowo meminta agar teknologi pengolahan sampah mikro yang sudah dikembangkan di beberapa kampus segera dipilih, disempurnakan, dan diuji coba di wilayah nyata. Pendekatan ini dimaksudkan sebagai pelengkap program Waste to Energy (WtE) yang saat ini tengah berjalan, sehingga solusi penanganan sampah menjadi lebih komprehensif.
“Jadi Bapak Presiden memberikan arahan selain tentu Waste to Energy yang tetap terus berjalan. Beberapa teknologi pengolahan sampah skala mikro yang memang sudah dikembangkan di beberapa kampus tadi diminta oleh Bapak Presiden untuk dilakukan percepatan,” kata Brian, Rabu (11/2/2026).
Target Uji Coba dan Kapasitas Pengolahan
Pemerintah menargetkan tahap uji coba teknologi pengolahan sampah skala mikro dapat dilaksanakan mulai tahun ini di beberapa kelurahan dan desa. Teknologi ini dirancang untuk menangani sampah sekitar 10 ton per hari, sesuai dengan rata-rata volume sampah domestik di lingkungan setempat.
“Kira-kira 10 ton per hari, jadi sampah di kelurahan, di desa itu kira-kira besarannya 10 ton per hari itu yang akan kita coba atasi,” ujar Brian.
Berbeda dengan teknologi WtE yang menghasilkan listrik, teknologi skala mikro fokus pada reduksi dan pemanfaatan ulang sampah, seperti pengolahan menjadi material seperti pasir atau debu yang dapat digunakan sebagai bahan campuran dalam pembangunan infrastruktur seperti trotoar dan semen.
Baca Juga:
Ikuti Perintah KLH, Pemkot Bandung Hentikan Insinerator Sampah
Statistik Sampah Nasional & Besarnya Tantangan
Permintaan percepatan pengembangan teknologi skala mikro semakin relevan mengingat tantangan besar yang dihadapi Indonesia dalam pengelolaan sampah. Menurut data yang dilansir dari laman resmi milik Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), timbulan sampah yang terlaporkan dari wilayah yang ikut input mencapai lebih dari 24,8 juta ton per tahun pada 2025, dengan sekitar 65,5 persen tidak terkelola secara efektif, sedangkan hanya sekitar 34,5 persen yang masuk kategori sampah terkelola (melalui penanganan atau pengurangan).
Secara makro, Indonesia menghasilkan lebih dari 35 juta ton sampah per tahun, dengan komposisi terbesar berupa sampah organik (lebih dari 40 persen), dilanjutkan oleh plastik, kertas, dan limbah lainnya.
Selain itu, data terbaru dari Kementerian Lingkungan Hidup menyebutkan bahwa tingkat pengelolaan sampah nasional meningkat menjadi sekitar 24,95 persen pada Januari 2026, naik signifikan dibandingkan dengan sekitar 10 persen pada awal 2025 menjadi indikator bahwa upaya pemda dan pemerintah pusat sedang berjalan namun masih jauh dari target ideal.
Kolaborasi Antar Institusi untuk Implementasi
Brian menegaskan bahwa percepatan pengembangan teknologi ini akan dilakukan secara terintegrasi melalui kerja sama antara pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga terkait, termasuk Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) serta Kementerian Lingkungan Hidup.
Lebih lanjut, pemerintah akan melakukan koordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup untuk memastikan bahwa penerapan teknologi ini ramah lingkungan dan memenuhi standar perlindungan lingkungan. Rapat lanjutan juga akan melibatkan pemerintah daerah guna memperluas implementasi ke berbagai wilayah di Indonesia.
“Kami akan segera melakukan rapat dengan (Kementerian) Lingkungan Hidup, dengan Danantara untuk pengembangan teknologinya lebih massal ya sehingga standarnya juga lebih baik, dan juga tadi dengan pemerintah daerah kami akan segera uji coba di beberapa kota. Harapannya juga bisa mempercepat penanganan sampah sambil menunggu (proyek) waste-to-energy yang sedang dijalankan Danantara (juga) berjalan,” pungkasnya.
(Magang UIN Sunan Gunung Djati Bandung/Khusnul Yulida)











