BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Layanan cloud milik Amazon, Amazon Web Services (AWS), dilaporkan mengalami gangguan pada Senin (20/10/2025). Insiden ini menyebabkan ribuan aplikasi dan situs besar seperti Reddit, Zoom, Canva, Snapchat, Fortnite, hingga Roblox tidak dapat diakses selama beberapa jam.
Gangguan pertama terdeteksi sekitar pukul 07.11 UTC (14.11 WIB) di pusat data US-EAST-1 yang berlokasi di Northern Virginia, Amerika Serikat.
AWS mengonfirmasi bahwa penyebab utama gangguan berasal dari masalah pada Domain Name System (DNS), yaitu sistem yang membantu aplikasi menemukan alamat server yang tepat.
Akibat layanan AWS yang mengalami down ini, berbagai aplikasi tidak bisa terhubung ke API DynamoDB AWS, layanan basis data cloud yang digunakan untuk menyimpan data pengguna dan informasi penting lainnya.
Peristiwa ini disebut sebagai gangguan internet terbesar sejak insiden CrowdStrike tahun lalu, yang sempat melumpuhkan sistem teknologi di rumah sakit, bank, dan bandara.
Kejadian tersebut kembali menunjukkan betapa rentannya infrastruktur digital global yang saling terhubung satu sama lain.
Ini menjadi setidaknya kali ketiga dalam lima tahun terakhir wilayah server AWS di Virginia Utara mengalami gangguan besar yang berdampak luas pada internet.
Menanggapi insiden tersebut, Amazon menyatakan pada Senin sore waktu setempat bahwa semua layanan AWS telah kembali beroperasi normal.
“Beberapa layanan seperti AWS Config, Redshift, dan Connect masih memiliki antrean pesan yang akan diproses dalam beberapa jam ke depan,” demikian penyataan pihak Amazon.
Meski sebagian besar sistem sudah pulih, AWS menjelaskan bahwa pemulihan penuh masih membutuhkan waktu, dan menegaskan bahwa penyebab gangguan bukan akibat serangan siber, melainkan masalah teknis internal.
Ken Birman, profesor ilmu komputer di Universitas Cornell, mengatakan bahwa para pengembang perangkat lunak perlu meningkatkan sistem toleransi kesalahan (fault tolerance) mereka.
BACA JUGA
Ia menjelaskan bahwa AWS sebenarnya telah menyediakan berbagai alat untuk membantu pengembang melindungi layanan mereka jika salah satu pusat data mengalami gangguan. Selain itu, pengembang juga disarankan menyiapkan cadangan di penyedia cloud lain.
Kejadian ini menjadi pengingat penting bagi perusahaan dan pengguna layanan cloud untuk memiliki strategi multicloud atau cadangan infrastruktur agar layanan tetap berjalan jika salah satu sistem bermasalah.
Di era digital yang sangat bergantung pada jaringan, memahami dan menghindari risiko dari “titik kegagalan tunggal” (single point of failure) kini menjadi semakin penting.
(Vischa Leonita/Magang UNLA/Aak)











