Legenda Kura-kura Belawa, Reptil Langka Asli Cirebon yang Butuh Perlindungan

Kura-kura Belawa - Instagram Pemkab Cirebon
Kura-kura Belawa (Instagram Pemkab Cirebon)
-

Tidak ada video disisipkan.

CIREBON, TEROPONGMEDIA.ID — Desa Belawa di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, menyimpan kekayaan fauna unik berupa kura-kura berpunggung cekung yang tidak ditemukan di tempat lain.

Dikenal sebagai Kura-Kura Belawa (Amyda cartilaginea Boddaert), satwa ini memiliki ciri khas karapas (tempurung punggung) berbentuk cekung menyerupai punggung manusia saat berenang.

Tentang habitat Kura-kura Belawa, dua peneliti IPB University, Insana dan Dwi Rorin Mauludin menjelaskan bahwa satwa jenis reptil ini hidup di perairan tenang dan keruh dengan dasar berlumpur tebal, seperti di kolam Cikuya, Desa Belawa.

Satwa ini memiliki ukuran bervariasi, dengan panjang karapas 26,5–72,5 cm, lebar 21,5–55 cm, dan berat antara 2.000–35.215 gram. Sementara telurnya memiliki berat 14,7–19 gram dengan diameter 31,1–34 mm.

Kura-Kura Belawa menghabiskan sebagian besar waktunya di air dan hanya naik ke darat untuk bertelur, mencari makan, atau berpindah kolam.

Lokasi bertelur kura-kura belawa biasanya berada di bawah pohon besar, sekitar 6–8 meter dari perairan, dengan kondisi tanah liat dan sedikit semak.

BACA JUGA

Balai Karantina Lampung Gagalkan Penyelundupan 215 Kura-Kura dan 5 Ular di Pelabuhan Bakauheni

Cara Cepat Membuat Kandang Kura-kura Darat

Pembangunan tembok tinggi di sekitar kolam, alih fungsi lahan untuk pertanian dan pemukiman, pengambilan telur oleh warga, serta kunjungan wisatawan berpotensi mengganggu habitatnya.

Namun, kelestarian satwa ini terancam oleh aktivitas manusia. Padahal, Desa Belawa menjadi salah satu destinasi wisata unggulan Cirebon karena keberadaan satwa langka ini.

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam menentukan strategi konservasi dan pengembangan Kura-Kura Belawa, sekaligus memberikan masukan bagi pihak berwenang untuk melindungi satwa endemik yang menjadi kebanggaan Cirebon ini.

Legenda Kura-Kura Belawa

Di sebuah desa di Jawa Barat, tepatnya di Belawa, tersimpan legenda tentang asal-usul kura-kura yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat. Kisah ini bermula pada masa awal penyebaran Islam di Jawa, di mana hiduplah seorang anak laki-laki bernama Joko Saliwah.

Joko Saliwah terlahir dengan wajah belang, suatu kondisi yang membuatnya dan keluarganya merasa terbebani. Berbagai upaya penyembuhan telah dilakukan, namun tak membuahkan hasil. Hingga suatu hari, orang tuanya membawanya menemui seorang ulama bijak bernama Syekh Datuk Putih di sebuah surau kecil di Belawa.

Perjalanan mereka tidak mudah—menembus hutan, melewati bukit, dan berjuang melawan cuaca. Namun, harapan akan kesembuhan membuat mereka pantang menyerah. Setiba di surau, Syekh Datuk Putih menyambut mereka dengan bijak. Ia menegaskan bahwa setiap ciptaan Tuhan memiliki maksud tersendiri, dan kelahiran Joko Saliwah bukanlah kutukan.

Di bawah bimbingan sang syekh, Joko Saliwah memeluk Islam dan tekun mempelajari Al-Qur’an. Kepandaiannya membuatnya cepat mahir membaca kitab suci, bahkan berhasil mengkhatamkannya berulang kali. Namun, keinginannya untuk memiliki wajah normal tak kunjung terwujud.

Suatu hari, rasa frustrasi menguasainya. Dalam emosi, ia merobek-robek Al-Qur’an yang dipegangnya hingga menjadi serpihan kecil. Begitu sadar, ia segera bersujud memohon ampun di sebuah sumur. Saat air sumur itu membasuh wajahnya, mukjizat terjadi—belang di wajahnya hilang.

Namun, penyesalannya belum berakhir. Ia berusaha mengumpulkan kembali serpihan Al-Qur’an yang telah bertebaran, tetapi yang ditemukannya justru binatang kecil mirip kura-kura di kolam sekitar surau. Binatang itu kemudian disebut quro (diambil dari kata “Qur’an”), yang dipercaya sebagai penjelmaan sobekan kitab suci.

Sumur tempat Joko Saliwah berwudhu kemudian dikenal sebagai Pamuruyan (tempat bercermin), dipercaya memiliki berkah penyembuh. Batu tempatnya mengaji dan shalat juga dianggap sakral, tidak boleh diinjak atau dirusak karena diyakini masih terkait dengan Al-Qur’an.

Nasib Joko Saliwah setelah peristiwa itu tidak diketahui dengan pasti, tetapi banyak yang meyakini ia menjadi tokoh agama di daerahnya. Di lokasi yang sama, terdapat dua sumur lain yang dikeramatkan, terletak di bawah dua pohon besar. Namun, keterkaitannya dengan kisah Joko Saliwah masih menjadi misteri.

Legenda ini tidak hanya menjadi cerita turun-temurun, tetapi juga mengandung nilai filosofis tentang kesabaran, penyesalan, dan keyakinan. Sebagaimana prinsip Memayu Hayuning Bawono (menjaga keharmonisan dunia), kisah ini mengajarkan kearifan dalam menghargai sesama makhluk dan alam semesta.

Hingga kini, kura-kura Belawa tetap dihormati, dan tempat-tempat bersejarah dalam legenda tersebut masih dijaga kelestariannya oleh masyarakat setempat.

(Aak)

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
OJK Jabar
Penipuan Investasi Mantan Pegawai Bank Mandiri Taspen di Purwokerto, OJK Minta Korban Segera Melapor
500 Musisi Meriahkan Bandung Kota Angklung Festival 2026
500 Musisi Meriahkan Bandung Kota Angklung Festival 2026
Pameran Persib Hadir di Braga, Suguhkan Identitas Bobotoh Melalui Karya Seni
Pameran Persib Hadir di Braga, Suguhkan Identitas Bobotoh Melalui Karya Seni
Dihadiri Bupati Bandung, KH Ubaidillah Ruhiat Lantik Wakil Ketua DPR RI Jadi Ketua Alumni Cipasung
Dihadiri Bupati Bandung, KH Ubaidillah Ruhiat Lantik Wakil Ketua DPR RI Jadi Ketua Alumni Cipasung
maroko brazil
Prediksi Skor Maroko vs Norwegia: Duel Dua Tim Kuda Hitam Piala Dunia 2026
Berita Lainnya

1

Tips Mengobati Luka Melepuh Akibat Gigitan Tomcat, Jangan Digaruk!

2

3

Sejumlah Ruko di Pasar Soreang Ambruk, Petugas Lakukan Evakuasi

4

Jadwal Adzan Magrib Lombok Hari Ini 17 Maret 2025

5

Profil Lengkap Budi Arie Menteri Komunikasi dan Informatika
Headline
rupiah hari ini
Rupiah Diprediksi Tembus Rp19.000 Akhir Juni 2026, The Fed Jadi Sorotan!
Farhan Bandung Siap Jadi Kota Terdepan Implementasi AI Pelayanan Publik
Farhan: Bandung Siap Jadi Kota Terdepan Implementasi AI Pelayanan Publik
Darurat Sampah Tidak Disetujui, Pemkot Bandung Siapkan Solusi Mandiri
Darurat Sampah Tidak Disetujui, Pemkot Bandung Siapkan Solusi Mandiri
dadan
Geser Dadan Hindayana, Prabowo Tunjuk Naniek Deyang Jadi Kepala BGN yang Baru