JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar bidang kebijakan publik, Idrus Marham, memberikan pernyataannya dalam merespon sikap Ketua Umumnya, Bahlil Lahadalia yang memaafkan para pembuat meme negatif sebagai sikap Pancasilais.
Menurutnya, sikap itu seiras dengan filosofi pemerintahan Presiden Prabowo yang menekankan nasionalisme, solidaritas, dan gotong royong.
Idrus menilai, lontaran miring terhadap Bahlil di media sosial merupakan bentuk paradoks demokrasi di era keterbukaan informasi.
“Konstruksi berpikir Pak Prabowo itu mengajak kita menyadari bahwa Indonesia ini rumah besar bangsa yang harus dirawat. Merawat itu dengan nilai kekeluargaan, gotong royong, kebersamaan, solidaritas, nasionalisme, patriotisme dan mengutamakan kepentingan rakyat,” kata Idrus dalam keterangannya, dikutip Minggu (26/10/2025).
Ia menambahkan, daripada menghina, publik seharusnya bisa melihat melihat kebijakan Bahlil di sektor energi dan sumber daya mineral yang menunjukkan capaian kinerjanya yang disebut sudah berpihak ke rakyat.
BACA JUGA:
HUT Golkar ke-61 Sederhana, Ingin Lebih Merakyat?
Soeharto Dinilai Layak Jadi Pahlawan Nasional oleh Sekjen Golkar, Kekurangan Dianggap Kelemahan
“Memperjuangkan keadilan harus dengan cara adil. Memperjuangkan demokrasi harus dengan cara demokratis. Memperjuangkan cita cita mulia dengan ketulusan dan niat baik, bukan dengan fitnah dan kebencian. Yang dilakukan Pak Bahlil itu menjadikan rakyat sebagai subjek, pelaku dalam pengelolaan sumber daya alam, bukan lagi sekedar sebagai objek, bahkan hanya penonton,” ungkap Idrus.
“Pak Bahlil selalu memiliki komitmen sesuai arahan Bapak Presiden Prabowo Subianto, Pak Bahlil sadar tugasnya adalah sebagai pembantu Presiden. Cara berpikir ini membuat Pak Bahlil selalu konsisten ada dalam lingkaran kebijakan sebagai pembantu Presiden,” tambahnya
Lebih lanjut, menurutnya, terkait langkah hukum yang dilakukan Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) dan Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) terhadap akun yang membuat dan menyebarkan meme yang dianggap menghina Bahlil, hal itu bukan dari perintah partai.
“Partai sadar, kritik bahkan fitnah adalah bagian dari dinamika perjuangan dan bagi Partai Golkar, kepentingan rakyat tetap menjadi prioritas utama. Jadi yang pelaporan itu murni ekspresi semangat anak muda yang ingin menjaga marwah organisasi dan pemimpinnya,” pungkasnya.
(Saepul)











