BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Manchester United resmi menunjuk Michael Carrick sebagai pelatih caretaker hingga akhir musim 2025/26. Pengumuman ini disampaikan klub pada Rabu (14/1/2026), menyusul keputusan manajemen memecat Ruben Amorim dan memilih menunda penunjukan manajer permanen.
Carrick tidak bekerja sendirian. Ia akan didampingi Steve Holland sebagai asisten utama, sementara Jonathan Woodgate, Jonny Evans, dan Travis Binnion melengkapi jajaran staf kepelatihan di Old Trafford.
Penunjukan ini menandai kembalinya Carrick ke kursi pelatih Setan Merah setelah pengalaman singkatnya sebagai caretaker pada 2021. Saat itu, ia mencatatkan dua kemenangan dan satu hasil imbang dari tiga pertandingan, rekam jejak yang kini kembali menjadi pertimbangan manajemen klub.
Sentuhan Sir Alex Ferguson di Balik Layar
Keputusan Manchester United menunjuk Carrick disebut tak lepas dari peran besar Sir Alex Ferguson. Laporan talkSPORT mengungkapkan bahwa manajer legendaris tersebut secara langsung memberikan dukungan penuh kepada Carrick, bahkan disebut lebih merekomendasikannya dibanding Ole Gunnar Solskjaer yang juga masuk dalam bursa caretaker.
Pengaruh Ferguson tentu tak bisa dipandang remeh. Sosok yang mempersembahkan 13 gelar Premier League dan dua Liga Champions itu diyakini memiliki suara kuat dalam keputusan strategis klub, terutama di tengah situasi krisis.
Carrick memang memiliki ikatan emosional yang kuat dengan Ferguson. Ia didatangkan dari Tottenham Hotspur pada 2006 dan berkembang menjadi pilar penting di lini tengah United. Hubungan profesional dan kepercayaan yang terbangun selama bertahun-tahun itulah yang membuat Ferguson yakin Carrick mampu menenangkan situasi sulit di Old Trafford.
Legenda Lapangan Hijau
Sebagai pemain, Michael Carrick adalah salah satu gelandang paling konsisten yang pernah dimiliki Manchester United. Ia mencatatkan 464 penampilan selama 12 tahun membela Setan Merah, dengan koleksi trofi yang mengesankan: lima gelar Premier League, satu Liga Champions (2008), satu Piala Dunia Antarklub, satu Liga Europa, satu Piala FA, dan tiga Piala Liga.
Gaya bermainnya dikenal sederhana namun efektif, dengan visi permainan, distribusi bola akurat, dan kecerdasan membaca pertandingan. Setelah pensiun, Carrick sempat menjadi bagian dari staf kepelatihan Ole Gunnar Solskjaer sebelum meninggalkan klub pada 2021.
Ia kemudian melanjutkan karier sebagai pelatih kepala Middlesbrough pada Oktober 2022. Di musim pertamanya, Carrick membawa Boro menembus babak play-off Championship, sebuah pencapaian yang sempat mengangkat reputasinya sebagai pelatih muda potensial. Namun, pemecatan pada musim lalu membuatnya vakum hingga United kembali memanggilnya pulang.
Baca Juga:
Era Ruben Amorim, Manchester United Rampungkan Transfer Pertama
Tugas Berat Menanti
Carrick kini dihadapkan pada tantangan besar. Manchester United berada di posisi ketujuh klasemen Premier League dengan 32 poin dari 21 pertandingan hasil yang jauh dari target klub. Performa tak konsisten, hasil mengecewakan di Liga Europa, serta tekanan suporter menjadi ujian nyata bagi caretaker anyar ini.
Ujian terberat bahkan datang di laga debutnya. Sabtu (17/1/2026) malam WIB, United akan menjamu Manchester City di Old Trafford dalam derby Manchester yang sarat gengsi. City tengah menunjukkan tren membaik, sementara United sangat membutuhkan kemenangan untuk mengembalikan kepercayaan diri.
Antara Harapan dan Keraguan
Respons publik terhadap penunjukan Carrick terbelah. Sebagian fans menyambut positif kembalinya legenda klub, berharap ia bisa membawa kembali mentalitas pemenang yang lama hilang. Namun tak sedikit pula yang meragukan kapasitasnya, mengingat pengalaman manajerialnya yang masih terbatas dan riwayat pemecatan di Middlesbrough.
Carrick sendiri menyadari besarnya tanggung jawab yang diemban.
“Kami ingin menang, itu sangat jelas. Kami ingin bermain dengan cara yang benar, mendapatkan hasil positif, dan memberi kegembiraan bagi semua orang,” ujarnya dalam wawancara resmi klub.
Dengan dukungan Sir Alex Ferguson, staf pelatih berpengalaman, serta statusnya sebagai legenda klub, Carrick memiliki modal penting untuk memulai. Namun, di sepak bola modern, nostalgia tak pernah cukup. Hanya satu hal yang akan menentukan, hasil di lapangan. Dan semuanya dimulai dari derby Manchester akhir pekan ini.
(Magang UIN Bandung/Adit Ramadhan)











