SUMUT, TEROPONGMEDIA.ID — Di Mandailing Natal, Sumatera Utara, ada benda kuno yang bentuknya jauh dari buku biasa, namanya Pustaha Laklak.
Pustaha Laklak merupakan buku lipat dari kulit kayu yang ditulis dengan aksara Batak dan disimpan diam-diam di dalam Bagas Godang, rumah raja adat. Namun jangan salah, buku ini bukan cuma catatan leluhur. Ia menyimpan ilmu, mantra, dan sejarah panjang budaya Batak Mandailing yang sempat diselubungi misteri.
Pustaha Laklak umumnya dibuat dari kulit pohon daluang atau alim, diproses menjadi lembaran, lalu dilipat zigzag seperti akordeon. Bagian sampulnya biasanya dari kayu keras, dihias ukiran simbolik atau bahkan ornamen magis.
Isi tulisannya memakai aksara Batak, tapi gaya penulisannya berbeda-beda tergantung zaman dan wilayah. Di Mandailing Natal sendiri, Pustaha Laklak mengalami perkembangan bentuk karena dipengaruhi oleh pergeseran budaya, lingkungan sosial, dan gaya penulisan para datu (dukun atau cendekia lokal).
Riset dari Nasoichah dan tim (2021) menyebutkan bahwa Pustaha Laklak di Huta Godang, salah satu kawasan adat penting di Mandailing Natal, memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari naskah-naskah bambu Batak lainnya.
Dari bentuk fisik hingga isi teks, pustaha di sana menunjukkan kesinambungan budaya dari abad ke-18 hingga abad ke-20. Salah satu yang menonjol adalah keberadaan catatan medis, perhitungan hari baik, hingga mantra spiritual yang menjadi panduan hidup masyarakat adat—dari pengobatan hingga upacara.
Namun, Pustaha Laklak tidak bisa dibaca sembarangan. Dalam sistem adat, hanya orang-orang tertentu yang boleh menyentuh dan memahami isi pustaha. Biasanya mereka adalah datu atau keturunan bangsawan yang belajar dari generasi ke generasi.
Bahkan letaknya di dalam Bagas Godang pun tidak sembarangan: disimpan dalam peti atau ruang tersembunyi agar tidak disalahgunakan. Sebab dalam kepercayaan lokal, pustaha menyimpan kekuatan yang bisa berdampak besar jika dibaca sembarangan.
Uniknya lagi, aksara yang digunakan dalam Pustaha Laklak Mandailing mengalami perbedaan bentuk dibanding daerah Batak lainnya seperti Toba atau Pakpak. Dalam penelusuran Nasoichah (2015), bentuk-bentuk aksara Batak di Mandailing banyak dipengaruhi oleh bahan tulis dan alat ukir.
Misalnya, pada media bambu, aksara lebih ramping dan vertikal karena teknik goresan berbeda. Sementara di pustaha kulit kayu, bentuk aksara lebih lebar dan terkadang disesuaikan dengan lebar bidang tulis.
Selain faktor teknis, perbedaan aksara juga dipengaruhi oleh jalur transmisi pengetahuan yang berbeda-beda antar kampung. Beberapa pustaha bahkan menunjukkan gaya campuran, yang menandakan terjadinya pertukaran budaya antara wilayah-wilayah adat Batak melalui jaringan perdagangan dan perkawinan bangsawan.
Dengan kata lain, Pustaha Laklak adalah produk budaya yang terus hidup dan beradaptasi, bukan sekadar benda mati dari masa lalu.
BACA JUGA
Bukan Sekadar Selendang: Ulos Batak Toba Simbol Cinta, Doa dan Peradaban Leluhur
Permainan Tradisional NTB: Bukan Sekedar Kenangan, tetapi Ini Cara Menjaga Akar Budaya
Sekarang, banyak pustaha disimpan di museum atau dijaga oleh komunitas adat. Tapi keberadaannya masih belum banyak dipahami masyarakat umum. Padahal dari sinilah kita bisa melihat bahwa masyarakat Batak
Mandailing sudah punya sistem pengetahuan yang terorganisir jauh sebelum datangnya pendidikan kolonial. Bahkan istilah “datu” dalam konteks pustaha bisa dianggap sebagai gelar ilmuwan tradisional—penggabung antara tabib, astronom, dan filsuf lokal.
Pustaha Laklak bukan cuma buku kuno, tetapi warisan intelektual Batak yang menyeberangi zaman. Ia menyimpan lebih dari sekadar kata: ada kosmologi, filsafat hidup, hingga sejarah lokal yang nyaris terlupakan.
Di balik lipatan-lipatannya, Pustaha Laklak mengajarkan satu hal penting: bahwa ilmu pengetahuan bisa tumbuh di tengah hutan, di atas kulit kayu, dan di tangan para datu yang tak pernah belajar di sekolah—tapi memegang kunci pengetahuan yang tak ternilai.
Sumber: Berkala Arkeologi Sangkhakala; Nasoichah, C. (2015). Faktor yang mempengaruhi perbedaan bentuk aksara Batak pada pustaha laklak dan naskah bambu di Mandailing Natal.
(Daniel Oktorio Saragih/Magang/Aak)











