JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Harga Bitcoin sempat mengalami tekanan signifikan dan turun di bawah level psikologis USD 90.000 menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik setelah aksi militer Amerika Serikat (AS) di Venezuela.
Pergerakan ini mencerminkan tingginya volatilitas pasar kripto di tengah kekhawatiran konflik global dan ketidakpastian sentimen investor.
Mengutip data CoinMarketCap, Minggu (4/1/2026), grafik TradingView menunjukkan Bitcoin sempat menyentuh level tertinggi harian di kisaran USD 90.940 di bursa Bitstamp sebelum berbalik arah. Tekanan jual mulai meningkat tak lama setelah laporan serangan udara militer AS di Caracas mencuat ke publik.
Situasi makin memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan melalui akun Truth Social bahwa presiden Venezuela telah ditangkap dan dilengserkan dari kekuasaan.
Pernyataan Trump tersebut langsung memicu reaksi pasar, terutama karena terjadi pada akhir pekan saat likuiditas relatif rendah dan pasar keuangan tradisional tengah tutup.
Kondisi ini membuat pergerakan harga Bitcoin menjadi lebih sensitif terhadap sentimen global, dengan fluktuasi tajam dalam waktu singkat.
Analis: Koreksi Bersifat Sementara
Meski tertekan, sejumlah pelaku pasar menilai koreksi ini tidak mengubah prospek jangka menengah Bitcoin. Firma analitik kripto @Wealthmanager menyebut tekanan jual yang terjadi masih dalam batas wajar sebagai reaksi terhadap isu geopolitik.
“Tekanan jangka pendek memang meningkat, tetapi struktur pasar Bitcoin masih sehat. Target kami tetap berada di kisaran USD 96.000 hingga USD 100.000 dalam beberapa pekan ke depan,” tulis mereka.
Mereka juga menyoroti posisi kontrak berjangka Bitcoin di CME Group yang ditutup di atas USD 90.000 pada pekan lalu. Level tersebut dinilai dapat menjadi sinyal teknikal positif bagi pergerakan harga selanjutnya.
Baca Juga:
Apa Itu Crypto Week? Bisa Dongkrak Harga Bitcoin Cetak Rekor Tembus Rp 2 Miliar
“Godfather of Crypto” Divonis 15 Tahun Bui, Penipuan Kripto Global Rp666 Triliun!
Pekan Krusial bagi Bitcoin
Analis kripto Lennaert Snyder menilai pekan ini akan menjadi fase penting seiring kembalinya pelaku pasar keuangan tradisional setelah libur akhir tahun. Masuknya kembali likuiditas institusional berpotensi memicu volatilitas yang lebih tinggi.
“Jika ketegangan geopolitik tidak meningkat lebih jauh, Bitcoin berpeluang pulih dengan cepat,” ujar Snyder.
Sementara itu, analis ternama Michaël van de Poppe menyebut penurunan harga ini sebagai reaksi klasik pasar terhadap isu geopolitik Venezuela. Ia tetap bersikap bullish selama Bitcoin mampu bertahan di atas rata-rata pergerakan 21 hari di area USD 87.850.
“Selama level support utama terjaga, tren awal Januari masih condong ke arah penguatan,” kata van de Poppe.
(Dist)










