BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – PhysioTrack, sebuah inovasi teknologi terapi pasca stroke berbasis smart assistance, lahir dari kepedulian mahasiswa Fakultas Teknik Elektronika dan Komputer (FTEK) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) terhadap realitas pahit yang masih dihadapi banyak pasien stroke di Indonesia: keterbatasan akses rehabilitasi.
Faktor jarak, biaya, serta minimnya tenaga medis membuat banyak pasien kesulitan menjalani terapi rutin. Kondisi ini berdampak langsung pada kualitas pemulihan pasien pasca stroke yang seharusnya membutuhkan terapi berkelanjutan dan terukur.
Melihat persoalan tersebut, empat mahasiswa FTEK UKSW, Gaezka Ardhika Putra, Adriel Fabian Suryoto, Benedictus Samuel, dan Bagus Satrio Wicaksono, menghadirkan PhysioTrack: Smart Assistance for Stroke Therapy, sebuah sistem rehabilitasi cerdas yang memungkinkan terapi dilakukan di rumah, tetapi tetap terpantau, terukur, dan terkontrol oleh tenaga medis.
Inovasi ini mengantarkan mereka meraih Juara 1 Best Team kategori mahasiswa dalam kompetisi nasional Samsung Innovation Campus Batch 7, mengungguli lebih dari 8.000 peserta dari berbagai kampus ternama di Indonesia, termasuk Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Nasional Bandung (ITENAS), Universitas Bina Nusantara (BINUS), dan Universitas Gadjah Mada (UGM).
PhysioTrack bukan sekadar proyek teknologi. Inovasi ini lahir dari pengalaman personal Bagus Satrio Wicaksono, yang ayahnya pernah mengalami stroke dan harus menjalani proses rehabilitasi panjang dengan berbagai keterbatasan.
Dari pengalaman tersebut, tim mulai melakukan riset, diskusi intensif, hingga perancangan teknologi selama kurang lebih enam bulan. Prosesnya meliputi pembelajaran sistem rehabilitasi medis, pengembangan konsep teknologi, hingga uji coba prototype langsung pada pasien pasca stroke di Salatiga.
“Kami melihat langsung masalah nyata di sekitar kami. Dari situ kami brainstorming, riset, lalu membangun solusi yang benar-benar dibutuhkan masyarakat,” ujar Bagus, dikutip dari laman resmi UKSW, Kamis (26/2/2026).
Baca Juga:
Fluviotion: Inovasi Mahasiswa ITB Atasi Krisis Air Bersih di Garut
Terapi Rumah Berbasis IoT dan AI
PhysioTrack dirancang dengan pendekatan Internet of Things (IoT) dan Artificial Intelligence (AI). Setiap gerakan terapi pasien dapat direkam, dianalisis, dan dipantau secara jarak jauh oleh dokter atau terapis.
Dengan sistem ini, pasien tetap bisa menjalani rehabilitasi secara mandiri di rumah tanpa kehilangan kontrol medis.
“Meski masih prototype, PhysioTrack sudah dirancang agar pasien tetap disiplin terapi, teratur, dan tetap berada dalam pengawasan tenaga medis,” jelas Adriel Fabian Suryoto.
Bukan Sekadar Menang Lomba
Tim FTEK UKSW tidak hanya menyiapkan alat, tetapi juga dokumentasi teknis, demo sistem, serta materi presentasi komprehensif sebagai bagian dari penilaian akhir kompetisi.
Gaezka Ardhika Putra menegaskan bahwa kemenangan ini bukan tujuan akhir, melainkan awal dari pengembangan lebih serius PhysioTrack agar bisa benar-benar diterapkan di masyarakat.
“Target kami bukan hanya kompetisi, tapi dampak nyata. PhysioTrack harus bisa benar-benar membantu pasien pasca stroke dan tenaga medis di lapangan,” tegasnya.
Sementara itu, Benedictus Samuel menekankan bahwa pencapaian ini juga tak lepas dari bimbingan dosen pembimbing Dr. Ir. Iwan Setyawan serta mentor dari penyelenggara kompetisi, yang mengarahkan tim agar solusi yang dikembangkan tetap realistis dan aplikatif.
Lebih dari sekadar inovasi teknologi, PhysioTrack membawa harapan baru bagi pasien pasca stroke untuk tetap produktif, mandiri, dan memiliki peluang pemulihan yang lebih baik, tanpa terhambat oleh jarak, biaya, dan keterbatasan fasilitas medis.





