BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Rivalitas Valentino Rossi dan Marc Marquez kembali membuktikan bahwa sebagian konflik di MotoGP tidak mengenal kata usai. Meski waktu telah berjalan satu dekade dan keduanya kini berada pada fase karier yang berbeda, hubungan Rossi–Marquez tetap membeku, meninggalkan luka lama yang belum juga pulih.
Momen singkat di pit lane MotoGP Austria 2025 menjadi bukti terbaru. Kehadiran Valentino Rossi, yang jarang muncul di paddock sejak pensiun pada akhir 2021, justru memantik sorotan saat ia berpapasan dengan Marc Marquez jelang Sprint Race. Tidak ada sapa, tidak ada senyum, keduanya saling mengabaikan. Adegan singkat itu langsung viral dan menghidupkan kembali memori rivalitas paling panas dalam sejarah MotoGP modern.
Marc Marquez kemudian menyatakan bahwa dirinya tidak melihat Rossi pada saat itu. Namun klarifikasi tersebut nyaris tak mengubah persepsi publik. Hubungan yang membeku sejak konflik besar musim 2015 membuat setiap gestur kecil di antara mereka selalu dibaca sebagai simbol permusuhan yang belum berakhir.
Akar masalah itu bermula ketika Rossi menuding Marquez sengaja memengaruhi persaingan perebutan gelar juara dunia 2015 dengan membantu Jorge Lorenzo. Ketegangan mencapai titik nadir di MotoGP Malaysia, sebuah insiden yang hingga kini masih menjadi perdebatan panjang dan meninggalkan bekas mendalam bagi keduanya.
Baca Juga:
Valentino Rossi Ungkap Soal Mental Usai Pensiun dari MotoGP
Dokter legendaris MotoGP, Claudio Marcello Costa, menilai luka tersebut terlalu dalam untuk disembuhkan. Costa, yang pernah menangani Rossi dan Marquez, menyebut rekonsiliasi sebagai harapan indah yang sulit menjadi kenyataan. Menurutnya, pengampunan memang mulia, tetapi tidak semua konflik dapat diselesaikan oleh waktu.
“Secara manusiawi, itu adalah mimpi semua orang, karena memaafkan adalah bentuk tertinggi dari jiwa manusia,” ujar Costa, dikutip dari MotoGP, Sabtu (20/12/2025).
Namun ia menambahkan bahwa dalam kasus Rossi dan Marquez, mimpi itu terasa terlalu jauh untuk diwujudkan.
Pandangan Costa sejalan dengan sikap Marquez yang sebelumnya menegaskan bahwa dirinya dan Rossi tidak saling membutuhkan. Pernyataan tersebut semakin menegaskan bahwa jarak emosional di antara dua legenda itu masih sangat lebar.
Di sisi lain, Rossi memiliki hubungan personal yang kuat dengan Costa, sosok yang ia anggap sebagai pelindung hidupnya. Sementara Marquez juga mencatat kisah kebangkitan luar biasa usai cedera parah pada 2020, hingga kini telah menyamai tujuh gelar juara dunia kelas utama milik Rossi dan berpeluang melampauinya pada musim 2026.
Namun seiring prestasi terus bertambah, satu hal tampaknya tidak berubah, bayang-bayang rivalitas Rossi dan Marquez. Di MotoGP, waktu bisa menyembuhkan banyak hal, tetapi untuk konflik dua ikon ini, luka lama itu tampaknya akan terus hidup sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah balap motor dunia.
(Budis)










