JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Komika Pandji Pragiwaksono angkat bicara soal masa depan karya-karyanya setelah menggelar audiensi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Pertemuan ini dilakukan sebagai respons atas kontroversi pertunjukan stand up comedy berjudul Mens Rea yang menuai sorotan publik.
Didampingi pengacaranya, Haris Azhar, Pandji menegaskan bahwa kedatangannya ke MUI bertujuan untuk bersilaturahmi sekaligus melakukan tabayyun atas karya yang dipersoalkan.
“Saya di sini berniat untuk bersilaturahmi, kemudian untuk tabayyun, mencoba untuk menjelaskan maksud di balik pertunjukan saya,” ujar Pandji kepada awak media di kantor MUI, Selasa (3/2/2026).
Dialog Jadi Pilihan Utama
Pandji menekankan, bahwa dialog selalu menjadi langkah pertama yang ia pilih ketika karyanya menimbulkan perdebatan.
Menurutnya, komunikasi terbuka lebih konstruktif dibandingkan saling menafsirkan tanpa klarifikasi langsung.
“Saya secara rekam jejak sangat sering menyediakan diri untuk dialog. Jadi saya tentu akan sangat senang kalau misalnya ketika ada kebingungan atau ketidakjelasan atas produk pertunjukan saya, maka langkah pertama yang diambil adalah berdialog,” katanya.
“Mens Rea” Dipastikan Berakhir
Menjawab spekulasi yang berkembang, Pandji memastikan bahwa tidak akan ada lagi pertunjukan dengan judul Mens Rea. Namun, ia menegaskan hal tersebut bukan berarti dirinya berhenti berkarya.
“Kalau pertanyaan apakah ada ‘Mens Rea’ lagi, jawabannya tidak. Tapi bukan karena saya tidak bikin pertunjukan lagi,” jelas Pandji.
Ia menyebut, pergantian judul merupakan hal yang biasa dalam perjalanan kariernya sebagai komika tunggal.
“Dalam 10 pertunjukan tunggal saya terakhir tidak ada yang judulnya sama. Jadi judulnya selalu berganti,” lanjutnya.
Tema Sosial-Politik Tetap Jalan
Meski Mens Rea tidak dilanjutkan, Pandji memastikan tema sosial dan politik yang selama ini menjadi ciri khasnya tetap akan diangkat dalam karya-karya mendatang.
“Dalam 10 pertunjukan saya, memang saya senang membahas sosial dan politik itu karena itu adalah keresahan saya, topik yang saya sukai. Jadi itu yang kelihatannya juga akan terus berjalan, hanya saja namanya saja berbeda,” ungkapnya.
Pandji mengaku mendapatkan banyak masukan dalam audiensi tersebut. Ia menyatakan komitmennya untuk terus memperbaiki diri sebagai kreator yang karyanya dikonsumsi publik luas.
“Saya diingatkan bahwa sebagai orang yang berkarya tentu selalu ada ruang untuk jadi lebih baik lagi. Dan karena karya saya didesain untuk menghibur sebanyak-banyaknya orang, maka karya itu juga harus mempertimbangkan perasaan sebanyak-banyaknya orang,” ujarnya.
Baca Juga:
Kasus Mens Rea Berlanjut, Pandji Pragiwaksono Dipanggil Polisi Jumat Ini
Jule Tantang Winona Karamoy di Phoenix Combat, Rebutkan Tahta Cewek Wispie
Filosofi Komedi Pandji
Menurut Pandji, materi komedi yang ia tampilkan di atas panggung lahir dari keresahan sosial yang dirasakan bersama. Tawa penonton menjadi indikator bahwa pesan tersebut tersampaikan.
“Apa pun yang saya bawakan di atas panggung, itu karena mewakili keresahan masyarakat banyak. Ketika tawa itu tercipta berarti mereka mengerti, mereka menemukan lucunya,” paparnya.
Soal Pembajakan Konten
Terkait maraknya konten Mens Rea yang beredar di luar platform resmi Netflix, Pandji menegaskan hal tersebut bukan menjadi ranahnya sebagai kreator.
“Oh nggak, kalau dari saya sih itu bukan ranahnya saya. Kalau dianggap bajakan dari Netflix, tanyanya ke Netflix,” tegas Pandji.
Pernyataan ini sekaligus menutup polemik yang berkembang, menegaskan bahwa Mens Rea telah menjadi bagian dari perjalanan karier Pandji—selesai sebagai judul, namun bukan sebagai semangat berkarya.
(Dist)











