BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Saat sebagian anak berangkat sekolah dengan langkah yang ringan dan perlengkapan yang memadai, pemandangan berbeda justru terlihat di sebuah daerah di pedalaman Kalimantan Selatan.
Seorang anak terlihat duduk meringkuk di dalam sebuah baskom plastik. Bukan untuk bermain, melainkan sebagai satu-satunya cara untuk menyebrangi sungai yang memisahkan rumah dan sekolahnya.
Dengan kedua tangan kecilnya, ia mengayuh air perlahan. Wajahnya tampak tenang, seolah apa yang dilakukannya adalah hal biasa. Padahal, di balik ketenangan itu ada risiko yang tidak kecil arus air yang tak menentu, keseimbangan yang mudah goyah, dan perjalanan yang jauh dari kata aman.
Video momen tersebut kemudian viral dan menyentuh banyak orang. Bukan karena dramatis, tetapi karena sebuah perjuangan yang nyata. Ini bukan sekadar konten viral, melainkan potret kehidupan yang masih dijalani sebagian anak di Indonesia demi mendapatkan hak dasar pendidikan.
Di usia mereka, seharusnya yang dipikirkan adalah pelajaran di kelas atau waktu bermain bersama teman. Namun bagi anak-anak ini, perjalanan menuju sekolah saja sudah menjadi tantangan besar. Sungai yang harus diseberangi, jalan berlumpur, hingga keterbatasan akses adalah bagian dari keseharian.
Di tengah kemajuan zaman dan teknologi berkembang begitu cepat atau pun pembangunan terus berlangsung, potret seperti ini terasa seperti jarak yang belum terjembatani. Bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara perhatian.
Sampai saat ini, belum ada kabar tentang perubahan nyata di lokasi tersebut. Anak-anak sekolah tersebut masih menjalani rutinitas yang sama dengan baskom, dengan sungai yang sama, dan dengan semangat yang tidak berubah.
Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya satu video yang lewat di beranda. Namun bagi mereka, ini adalah kehidupan sehari-hari.
Sebuah harapan yang terus dikayuh pelan-pelan, menuju masa depan.
(Magang Unpas/Tihan Naila. A)











