BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Sekretaris Daerah Kota Bandung, Iskandar Zulkarnain mengatakan, penanganan tunawisma atau gelandangan serta penertiban ruang publik sangat penting demi menjaga citra Kota Bandung.
Hal tersebut disampaikan saat Apel Mulai Bekerja di Plaza Balai Kota Bandung, Senin (19/1/2026).
Iskandar mengungkapkan, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menaruh perhatian khusus terhadap keberadaan orang-orang yang tidur di trotoar maupun di badan jalan, terutama di kawasan pusat kota.
Kondisi tersebut dinilai dapat mengganggu ketertiban umum sekaligus berdampak pada citra kota di mata masyarakat dan wisatawan.
Menurutnya, kawasan pusat kota merupakan etalase Kota Bandung yang menjadi sorotan banyak pihak. Oleh karena itu, keberadaan gelandangan yang menempati ruang publik perlu ditangani secara serius, terencana, dan berkelanjutan.
Iskandar menyebut, penanganan gelandangan tidak bisa dilakukan oleh satu perangkat daerah saja. Seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) dan unsur kewilayahan diminta untuk terlibat aktif dalam melakukan pemantauan dan penanganan di wilayah masing-masing.
Ia meminta jajaran di lapangan untuk tidak membiarkan kondisi tersebut berlarut-larut. Apabila masih ditemukan gelandangan di trotoar atau badan jalan, OPD dan kewilayahan diminta segera berkoordinasi dengan Dinas Sosial atau Dinas Kesehatan sesuai dengan kewenangan masing-masing.
“Koordinasi harus berjalan dengan baik agar penanganan dapat dilakukan secara tepat, baik dari sisi sosial maupun kesehatan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Iskandar menuturkan, penanganan gelandangan harus mengedepankan pendekatan yang manusiawi, tanpa mengabaikan aspek ketertiban umum dan kenyamanan ruang publik.
Pemerintah Kota Bandung, kata dia, berkomitmen untuk terus menjaga ketertiban ruang publik sekaligus memastikan kelompok rentan mendapatkan penanganan yang sesuai dengan aturan dan prinsip kemanusiaan.
Baca Juga:
77 Tunawisma Dijaring Operasi PPKS di Sejumlah Titik Kota Bandung
Menjamur di Pusat Kota, Pemkot Bandung Segera Tertibkan Tunawisma
Data Tunawisma di Kota Bandung
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kota Bandung, Yorisa Sativa menyebutkan, secara umum kelompok tunawisma terbagi ke dalam tiga kategori utama, yakni gelandangan, pengemis, dan pemulung.
Berdasarkan data Dinsos, terjadi peningkatan jumlah pada ketiga kategori tersebut. Pada periode 2025, jumlah gelandangan tercatat sebanyak 156 jiwa, meningkat dari 113 jiwa pada 2024.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 129 jiwa telah dijangkau melalui Unit Social Response (USR), sementara 27 jiwa belum terjangkau.
Sedangkan jumlah pengemis mencapai 223 jiwa, naik dari 188 jiwa pada tahun sebelumnya, dengan 184 jiwa telah mendapatkan penanganan. Adapun pemulung tercatat 57 jiwa, meningkat dari 41 jiwa pada 2024.
Yorisa menjelaskan, asal daerah para tunawisma cukup beragam. Untuk gelandangan, mayoritas berasal dari luar Kota Bandung, yakni 125 jiwa, sementara 31 jiwa merupakan warga Kota Bandung. Daerah asal terbanyak berasal dari Kabupaten Bandung, Garut, dan Bandung Barat.
Hal serupa juga terjadi pada pengemis dan pemulung, yang sebagian besar berasal dari luar kota, bahkan tercatat 10 orang tunawisma berasal dari luar Pulau Jawa pada 2025.
“Sebaran mereka ada di sekitar 16 hingga hampir 20 titik rawan, terutama di kawasan strategis dan pusat aktivitas kota,” ujar Yorisa.
Beberapa titik yang kerap menjadi lokasi mangkal tunawisma antara lain Jalan Ir. H. Juanda, Jalan Merdeka, Taman Vanda, Jalan Riau–Lombok, Jalan Naripan–Tamblong, Taman Saparua, Taman Lalu Lintas, Simpang Lima–Asia Afrika, hingga kawasan Braga dan Cihampelas.
Keberadaan tunawisma tersebut, lanjut Yorisa, menimbulkan berbagai persoalan sosial. Mulai dari masalah kesehatan seperti risiko penyakit menular, gangguan ketertiban dan keamanan, hingga menurunnya keindahan kota.
Selain itu, praktik mengemis secara memaksa di sejumlah titik juga kerap dikeluhkan masyarakat.











