BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan, Presiden Prabowo Subianto telah memberikan perintah kepada jajaran menteri untuk menyelesaikan polemik utang Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) atau Whoosh.
Perintah ini disampaikan Presiden dalam rapat terbatas (ratas) di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Rabu (29/10) malam.
“Kemarin di dalam ratas (masalah Whoosh, red.) itu bagian dari salah satu yang dibicarakan,” kata Prasetyo Hadi, melansir Antara, Jumat (31/10/2025).
Menteri-menteri yang mengitkuti ratas tersebut, antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, serta Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani.
Rapat terbatas juga dihadiri oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Baca Juga:
Polemik Utang Whoosh Jadi Bahan Bahasan Kabinet Prabowo
Purbaya Respon Pernyataan Jokowi Soal Whoosh: Ada Betulnya Sedikit
Presiden Prabowo memerintahkan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, serta CEO Danantara Rosan Roeslani untuk mencari skema terbaik menyelesaikan masalah utang kereta cepat Whoosh.
Skema tersebut meliputi detail yang terkait dengan angka, dan skenario-skenario penyelesaian utang terbaik yang dapat ditempuh oleh pemerintah.
“Pak Airlangga, Menteri Keuangan, kemudian CEO Danantara diminta untuk menghitung lagi detail-detailnya, kemudian opsi-opsi untuk meminta, misalnya, perpanjangan masa pinjaman. Itu bagian dari skenario-skenario, skema yang terbaik,”
Sebelumnya, Chief Operation Officer (COO) Danantara yang juga Kepala Badan Pengaturan BUMN Dony Oskaria menjelaskan negosiasi untuk restrukturisasi utang Whoosh belum final dan masih berjalan.
Pemerintah masih membahas sejumlah aspek, diantaranya terkait dengan pembayaran suku bunga hingga mata uang yang bisa digunakan untuk pembayaran utang. Untuk itu, Dony menegaskan perwakilan Indonesia, termasuk Danantara akan segera berangkat ke China untuk melakukan negosiasi utang kereta cepat.
“Terus kita bernegosiasi, kami akan berangkat lagi (ke China) untuk bernegosiasi mengenai term dan pinjamannya. Ini menjadi poin negosiasi berkaitan sama jangka waktu pinjaman, suku bunga, dan kemudian ada beberapa mata uang yang juga akan kita diskusikan dengan mereka,” kata Dony di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, pada 23 Oktober 2025.
(Raidi/Budis)











