Senja di Pangandaran: Antara Keindahan Alam dan Dinamika Sosial Wisata

-

Tidak ada video disisipkan.

BANDUNG, SUAR MAHASISWA AWARD — Senja hari di Pantai Pangandaran, Jawa Barat, selalu menghadirkan pemandangan yang memukau. Sinar matahari yang perlahan tenggelam di balik cakrawala menjadi latar indah dari keramaian para pengunjung yang datang dari berbagai penjuru. Namun di balik keelokan tersebut, tersimpan dinamika sosial dan tantangan lingkungan yang patut menjadi perhatian bersama.

Pangandaran bukan sekadar destinasi wisata. Ia menjadi ruang sosial dan tempat orang-orang berinteraksi, berekspresi, dan mencari ketenangan. Pemandangan wisatawan yang menyebar di sepanjang pantai bermain pasir, berswafoto, menikmati jajanan lokal, atau sekadar berjalan-jalan di tepi laut menunjukkan fungsi penting kawasan ini sebagai ruang publik. Suasana semacam ini tidak hanya membangun kedekatan antarmanusia, tetapi juga memperlihatkan hubungan manusia dengan alam yang kompleks.

Dalam budaya masyarakat Sunda, alam bukan hanya tempat tinggal, tetapi bagian dari kehidupan itu sendiri. Ungkapan tradisional seperti “Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh” menggambarkan nilai-nilai untuk saling menjaga baik sesama manusia maupun dengan alam. Namun sayangnya, semakin meningkatnya jumlah wisatawan sering kali tidak sejalan dengan peningkatan kesadaran lingkungan. Sampah yang menumpuk, abrasi pantai, dan terganggunya biota laut menjadi bukti bahwa keseimbangan itu perlahan tergeser.

Pariwisata berbasis lingkungan dan budaya kini menjadi tuntutan. Edukasi kepada pengunjung dan pelibatan masyarakat lokal sebagai penjaga nilai dan penjaga alam perlu diperkuat. Pangandaran bisa menjadi contoh keberhasilan jika dikelola tidak hanya dari aspek ekonomi, tetapi juga dari sudut pandang keberlanjutan dan kearifan lokal.

Senja di Pangandaran mengajarkan kita bahwa keindahan alam bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk dihargai dan dijaga. Sebuah refleksi bahwa pariwisata sejati adalah ketika alam tetap lestari, masyarakat lokal tetap berdaya, dan budaya tetap hidup di tengah arus modernitas.

Penulis:

Siti Nur’aeni Aisyah/Universitas Indonesia Membangun

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
OJK Jabar
Penipuan Investasi Mantan Pegawai Bank Mandiri Taspen di Purwokerto, OJK Minta Korban Segera Melapor
500 Musisi Meriahkan Bandung Kota Angklung Festival 2026
500 Musisi Meriahkan Bandung Kota Angklung Festival 2026
Pameran Persib Hadir di Braga, Suguhkan Identitas Bobotoh Melalui Karya Seni
Pameran Persib Hadir di Braga, Suguhkan Identitas Bobotoh Melalui Karya Seni
Dihadiri Bupati Bandung, KH Ubaidillah Ruhiat Lantik Wakil Ketua DPR RI Jadi Ketua Alumni Cipasung
Dihadiri Bupati Bandung, KH Ubaidillah Ruhiat Lantik Wakil Ketua DPR RI Jadi Ketua Alumni Cipasung
maroko brazil
Prediksi Skor Maroko vs Norwegia: Duel Dua Tim Kuda Hitam Piala Dunia 2026
Berita Lainnya

1

Threads Melonjak Pesat, Jadi Penantang X Milik Elon Musk

2

3

Meski Matic, ini Catatan Berkesan BBM Kijang Kapsul LGX

4

Brace Cristiano Ronaldo Warnai Kemenangan Al Nassr atas Al Gharafa di Liga Champions Asia

5

Prediksi Skor Sporting vs Bodo/Glimt Liga Champions 2025/2026, Misi Comeback Lions di Liga Champions
Headline
rupiah hari ini
Rupiah Diprediksi Tembus Rp19.000 Akhir Juni 2026, The Fed Jadi Sorotan!
Farhan Bandung Siap Jadi Kota Terdepan Implementasi AI Pelayanan Publik
Farhan: Bandung Siap Jadi Kota Terdepan Implementasi AI Pelayanan Publik
Darurat Sampah Tidak Disetujui, Pemkot Bandung Siapkan Solusi Mandiri
Darurat Sampah Tidak Disetujui, Pemkot Bandung Siapkan Solusi Mandiri
dadan
Geser Dadan Hindayana, Prabowo Tunjuk Naniek Deyang Jadi Kepala BGN yang Baru