BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Band metal asal Jakarta, Seringai, resmi mencabut seluruh katalog lagunya dari Spotify pada Selasa (14/10/2025). Hanya dua lagu soundtrack dari film 12:00 A.M., yakni ‘Satu Sisi Dan Menyerang’ serta ‘Lencana’, yang masih tersisa di platform tersebut.
Kabar ini dikonfirmasi oleh manajer Seringai, Wendi Putranto.
“Hanya mundur dari Spotify, tapi masih tersedia di platform streaming musik lainnya kok,” kata Wendi kepada wartawan melalui pesan singkat, Selasa (14/10/2025).
Langkah ini diambil setelah muncul kabar bahwa Daniel Ek, CEO Spotify, berinvestasi sebesar 600 juta euro atau sekitar Rp10 triliun ke perusahaan teknologi drone dan AI asal Jerman bernama Helsing, yang terlibat dalam pengembangan militer.
“Karena Daniel Ek terbukti melakukan investasi sebesar 600 juta euro ke perusahaan teknologi drone dan AI untuk pengembangan militer,” tulis Wendi dalam pesannya.
Baca Juga:
Giring Ganesha Tegaskan KMI 2025 Lanjutkan Warisan Glenn Fredly untuk Musik Indonesia
Seringai menilai keputusan itu bertentangan dengan prinsip mereka sebagai band yang konsisten menyuarakan perdamaian dan solidaritas terhadap Palestina.
“Personel Seringai dan seluruh karya yang diciptakan oleh mereka menolak terafiliasi dengan kegiatan tersebut maupun menolak mendukung peperangan,” tambahnya.
Musisi Lain Ikut Cabut dari Spotify
Sebelum Seringai, dua musisi asal Yogyakarta—Frau dan Majelis Lidah Berduri—sudah lebih dulu mencabut katalog musik mereka dari Spotify.
Leilani Hermiasih, yang dikenal dengan nama panggung Frau, mengumumkan keputusannya pada September 2025 melalui media sosial.
“Ironis banget, kok seseorang yang mengembangkan platform musik, yang seharusnya merayakan kehidupan dan kebebasan, malah ikut nyumbang ke teknologi perang,” tulisnya.
Band Majelis Lidah Berduri juga mengambil langkah serupa pada 25 September 2025. Mereka menilai Spotify berpihak pada pihak yang mendukung genosida di Palestina dan turut menormalisasi sistem ekonomi yang merugikan pekerja seni.
“Kabar sebaris: Kami cabut dari Spotify sebab kami berdiri bersama kalian. #freePalestine #freefromextractiveeconomy #freelistener,” tulis mereka di Instagram.
Selain musisi Indonesia, sejumlah nama internasional seperti Massive Attack, Deerhof, King Gizzard & The Lizard Wizard, dan David Bridie juga memboikot Spotify.
Respon Spotify dan Helsing
Menanggapi gelombang boikot, juru bicara Spotify menegaskan bahwa Spotify dan Helsing adalah dua perusahaan yang sepenuhnya terpisah.
Sementara pihak Helsing pun menyatakan bahwa teknologinya tidak digunakan untuk menyerang Gaza, melainkan untuk tujuan pertahanan di Eropa.
“Saat ini kami melihat misinformasi yang menyebar bahwa teknologi Helsing digunakan di zona perang selain Ukraina. Itu tidak benar,” tulis Helsing dalam pernyataan resminya.
“Teknologi kami diterapkan ke negara-negara Eropa hanya untuk pencegahan dan pertahanan terhadap agresi Rusia di Ukraina,” lanjutnya.
Namun, sejumlah musisi tetap menilai langkah Daniel Ek sebagai bentuk kontradiksi moral, mengingat Spotify adalah platform yang seharusnya “merayakan kehidupan melalui musik”, bukan mendukung industri perang.
Keputusan Seringai dan sejumlah musisi lain ini diharapkan dapat memicu diskusi lebih luas mengenai tanggung jawab sosial perusahaan teknologi serta peran seniman dalam menyuarakan perdamaian.
Meski tak lagi tersedia di Spotify, para Serigala Militia—sebutan bagi penggemar Seringai—masih dapat menikmati karya-karya band tersebut melalui Bandcamp, YouTube Music, dan Deezer.
Penulis:
Vischa Leonita/Magang UNLA







