BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menghadiri kegiatan Siskamling Siaga Bencana #91 yang digelar di Kantor Kelurahan Cisaranten Kidul, Kecamatan Gedebage, Rabu (22/4/2026). Kegiatan ini menjadi salah satu upaya pemerintah kota dalam memperkuat kesiapsiagaan warga sekaligus menyerap aspirasi masyarakat di tingkat kelurahan.
Forum tersebut membuka dialog langsung antara warga dengan pemerintah untuk menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi di lingkungan RT/RW masing – masing. Mulai dari banjir, persoalan sampah, lahan bangunan, hingga kondisi fasilitas pendidikan seperti kekurangan guru dan bangunan sekolah yang hampir roboh.
Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, meminta perwakilan RT/RW 1 hingga 16 di Kelurahan Cisaranten Kidul untuk menyampaikan aspirasi kepada pemerintah, yang kemudian langsung didengarkan guna mengetahui kebutuhan masyarakat.
Banjir Masih Jadi Keluhan Warga
Masyarakat banyak yang mengeluhkan persoalan banjir karena cukup banyak warga yang terdampak. Dengan kondisi cuaca ekstrem di Bandung saat ini, genangan air kerap terjadi, terutama akibat luapan Sungai Citarum yang berdampak dari RW 09 hingga RW 14. Warga berharap adanya penanganan yang lebih serius, khususnya pada sistem drainase dan pengendalian aliran air.
Menanggapi hal tersebut, Farhan mengatakan pihaknya akan segera melakukan survei lapangan pada keesokan hari untuk melihat kondisi secara langsung dan menentukan langkah penanganan yang tepat.
masalah Sampah Capai 11 Ton per Hari
Permasalahan sampah juga menjadi sorotan utama. Warga menyebut volume sampah di Kelurahan Cisaranten Kidul mencapai sekitar 11 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 10 ton dapat diolah melalui pembakaran, sementara sampah organik yang dikelola berkisar 150 kilogram per hari.
Menanggapi hal itu, Farhan menegaskan pentingnya pendataan yang akurat terkait jumlah sampah.
“Bapak/Ibu sekalian, kondisi ini memang memaksa kita untuk menghitung ulang sampah. Karena semua orang bertanya-tanya, tadi kata Pak RW teu sakitu cenah. Supaya perdebatan itu berhenti sampai pada sebuah kesepakatan, saya akan lakukan perhitungan yang betul-betul terukur pakai timbangan. Harus pakai timbangan, biar kita tahu timbulan baru sampah di Cisaranten Kidul ini berapa,” ujarnya.
Status Lahan Jadi Kendala Pemanfaatan
Perwakilan RW 09 menyampaikan adanya lahan kosong sekitar 600 meter yang berencana dimanfaatkan untuk pengelolaan sampah. Namun, status lahan tersebut masih menjadi pertanyaan. Selain itu, warga RW 09 juga mengusulkan pemanfaatan lahan kosong untuk pembangunan fasilitas umum seperti taman bermain anak.
“Ada lahan kurang lebih 600 meter, karena lahan itu kosong, kami diizinkan oleh Pak RW untuk mengelola. Tapi kami hanya seizin RW saja. Menurut Pak Farhan, tanah itu bagaimana statusnya, sehingga kalau sudah jelas kami bisa mengelolanya dengan enak,” ujarnya
Fasilitas Pendidikan dan Lahan Sekolah Jadi Sorotan
Warga juga menyampaikan adanya kekurangan tenaga pengajar tetap atau banyak guru yang masih berstatus pegawai kontrak. Selain itu, perwakilan warga menyebut pemerintah provinsi sebenarnya siap membangun sekolah, namun terkendala ketersediaan lahan.
Tak hanya itu, warga juga menyoroti kondisi bangunan sekolah yang memprihatinkan. Salah satunya terjadi di SDN 196 Kidul, di mana bagian tembok sekolah dilaporkan sudah miring dan dikhawatirkan roboh. Hingga saat ini, warga menyebut belum ada tindakan penanganan, sehingga kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi keselamatan siswa.
“Dari provinsi itu mereka siap membangun sekolah, tapi lahannya tidak siap. Kalau pun boleh, ada usulan ke pemerintah kota, seperti lahan di belakang Pusdikbekal yang merupakan milik pemerintah kota, apakah bisa dimanfaatkan,” ujar perwakilan RW 01.
Menanggapi hal itu, Farhan mengaku tengah melakukan koordinasi dengan DPRD Provinsi Jawa Barat terkait penyediaan lahan dan anggaran pembangunan sekolah.
“Untuk sekolah SMA, insyaallah saya sedang koordinasi dengan Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat, untuk pengadaan lahan dan anggaran. Lahan dari kita, anggaran dari mereka. Mudah-mudahan bisa ketemu, karena mencari lahan di Kota Bandung tidak mudah sama sekali,” jelasnya.
Kegiatan berlangsung dengan suasana terbuka dan penuh interaksi antara warga dan pemerintah. Berbagai aspirasi yang disampaikan diharapkan tidak berhenti pada forum saja, tetapi bisa segera ditindaklanjuti sesuai prioritas di lapangan.
Melalui kegiatan Siskamling Siaga Bencana #91 ini, Pemerintah Kota Bandung berharap komunikasi dengan masyarakat bisa terus terjalin dengan baik, sekaligus menghadirkan solusi nyata terhadap berbagai persoalan yang dihadapi warga.
(Magang Unpas / Putri Diva Cahya Satriani)











