BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Momen tak terduga terjadi di salah satu episode podcast Deddy Corbuzier yang kembali menjadi viral setelah komika Indra Frimawan terlihat meludahi konten kreator dan aktor muda Fajar Sadboy sebanyak dua kali, sehingga memicu reaksi luas dari publik, termasuk dari rekan selebritas. Sikap yang dipandang banyak pihak sebagai tindakan kurang pantas ini langsung menjadi perbincangan hangat di media sosial dan sorotan industri hiburan Indonesia.
Insiden itu berlangsung saat Fajar Sadboy hadir sebagai bintang tamu di acara podcast populer tersebut bersama Indra Frimawan. Cuplikan video yang beredar di platform TikTok menunjukkan momen tersebut secara jelas, mulai dari ludahan pertama yang tampak mengenai area Fajar, hingga momen kedua yang semakin memperjelas dinamika kurang nyaman antara keduanya.
Kejadian ini langsung memicu berbagai respons dari netizen yang menilai tindakan tersebut tidak pantas, meskipun suasana keseluruhan acara tampak santai pada awalnya. Video yang viral itu memperlihatkan Indra Frimawan meludahi Fajar bukan hanya sekali, tetapi sampai dua kali berturut-turut, sehingga membuat warganet mempertanyakan etika profesional dalam sebuah acara yang ditayangkan secara publik.
Banyak komentar di media sosial mengungkapkan kekhawatiran bahwa tindakan tersebut bisa berdampak negatif terhadap citra dan kenyamanan seniman muda seperti Fajar, yang belakangan juga dikenal karena karya dan aktivitasnya di berbagai platform hiburan. Respons publik terhadap kejadian itu sangat cepat dan beragam.
Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah reaksi dari Amanda Manopo, yang diketahui memiliki hubungan dekat dengan Fajar Sadboy baik di layar maupun di luar konteks profesional. Melalui komentar singkat di salah satu unggahan terkait video tersebut, Amanda memberikan respons yang dinilai netizen memiliki arti kuat terkait kejadian itu.
”Hmm’’ komentar Amanda dalam sebuah unggahan terkait video tersebut.
Baca Juga:
Amanda Manopo Alami Pelecehan Saat Dikerubungi Fans
Terungkap, Ini Alasan Amanda Manopo Ogah Aktif di Media Sosial
Reaksi netizen kini semakin bervariasi, mulai dari dukungan terhadap Fajar hingga kecaman terhadap tindakan Indra Frimawan. Sejumlah komentar online menyebut bahwa perilaku seperti itu (ludahan dalam konteks interaksi fisik) bukan bagian dari etika yang pantas dalam ruang publik, apalagi ketika disiarkan untuk konsumsi luas. Ada juga komentar yang mempertanyakan relevansi serta batasan humor dalam konten yang diproduksi oleh figur publik di media daring.
Fenomena ini menarik perhatian lebih besar ketika mempertimbangkan latar belakang hubungan profesional antara Fajar Sadboy dan beberapa tokoh dunia hiburan Indonesia, termasuk Amanda Manopo. Fajar belakangan dikenal luas setelah keterlibatannya dalam berbagai proyek film dan konten digital, terutama melalui perannya bersama Amanda Manopo yang kerap dipuji netizen karena chemistry mereka bak kakak-adik dalam proyek yang sama.
Dinamika hubungan profesional tersebut kemudian memicu spekulasi netizen bahwa reaksi dari figur seperti Amanda Manopo bukan hanya sebatas dukungan biasa, tetapi juga cerminan dari solidaritas dalam industri hiburan terhadap perlakuan yang dirasa kurang adil. Hal ini bahkan turut memperlebar perbincangan tentang batasan profesional dan personal antara sesama publik figur ketika sebuah insiden viral terjadi.
Kejadian ini juga membawa diskusi yang lebih luas mengenai etika dalam dunia konten digital dan interaksi publik figur, terutama di era saat ini di mana setiap momen dapat dengan cepat menjadi viral dan berdampak signifikan terhadap reputasi seseorang. Banyak pengamat media sosial yang menilai bahwa fenomena seperti ini perlu dijadikan bahan evaluasi bagi para kreator konten, artis, maupun komika dalam menyampaikan materi atau interaksi yang melibatkan tamu undangan lain.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi lanjutan dari Indra Frimawan atau kuasa humasnya terkait insiden itu. Publik masih menunggu klarifikasi yang mungkin bisa memperjelas konteks interaksi tersebut, apakah sebenarnya merupakan bagian dari humor yang disengaja atau sebuah kesalahan yang tidak pantas terjadi di ruang podcast yang ditonton secara luas.
Kasus ini juga membuka ruang diskusi baru di kalangan penggemar dan industri hiburan Indonesia: sejauh mana figur publik boleh menggunakan gaya interaksi yang provokatif untuk menciptakan konten, dan di mana batasannya ketika hal itu melibatkan rasa hormat terhadap sesama tamu.
(Magang UIN Sunan Gunung Djati/Anggia Ananda Safitri)











