BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Ajang teknologi IFA 2025 di Berlin kembali jadi panggung lahirnya inovasi unik. Salah satu yang mencuri perhatian datang dari Timekettle dengan perangkat terbarunya, W4 AI Interpreter Earbuds.
Bukan sekadar earphone biasa, perangkat ini dirancang sebagai alat penerjemah lintas bahasa yang cepat, akurat, dan praktis dibawa ke mana saja.
Timekettle mengklaim bahwa W4 mampu menerjemahkan dengan tingkat akurasi hingga 98 persen, hanya dalam jeda 0,2 detik saja.
Rahasianya ada pada penggunaan bone-voiceprint sensor, teknologi yang menangkap getaran suara langsung dari pengguna.
Dengan begitu, percakapan tetap terdengar jernih meski dilakukan di tempat ramai, sekaligus lebih privat karena suara tidak bocor keluar.
Berbeda dengan W4 Pro yang memang diarahkan untuk keperluan konferensi besar atau bisnis formal, Timekettle W4 hadir lebih simpel, ringan, dan stylish.
Tersedia dalam dua warna yaitu Navy Blue dan Sandy Gold, perangkat ini jelas menargetkan pengguna sehari-hari yang tetap ingin tampil modern sekaligus efisien.
Di sisi software, W4 diperkuat dengan Babel OS 2.0, sistem AI yang mampu memahami 42 bahasa dan 95 aksen. Tidak hanya sekadar menerjemahkan kata demi kata, sistem ini disebut lebih pintar memahami konteks percakapan sehingga hasilnya terdengar lebih alami.
Baca Juga:
Earbuds JBL Terbaik di Tahun 2023, Miliki Salah Satunya!
Bahkan, Timekettle sudah menyiapkan update besar di tahun 2026 berupa fitur voice cloning berbasis AI, yang bakal membuat pengalaman komunikasi lintas bahasa semakin personal.
Tak ketinggalan, sektor baterai juga cukup bisa diandalkan. W4 bisa dipakai hingga 4 jam nonstop dalam mode terjemahan, 10 jam bila dibantu casing pengisi daya, dan sampai 18 jam jika hanya digunakan untuk mendengarkan musik.
Ada juga fitur One-Flip Sharing, yang memungkinkan dua orang berbagi satu earbuds untuk percakapan dua arah fitur yang terasa futuristis, tapi sangat praktis.
Dengan segala kecanggihan ini, Timekettle W4 AI Interpreter Earbuds seolah membuka babak baru dalam perangkat audio. Ia bukan hanya soal mendengarkan musik, tapi juga menjembatani percakapan antarbangsa tanpa ribet.
(Daniel Oktorio Saragih-Ilmu Komunikasi UNIBI/Budis)



