BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Warga Desa Bringinan, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, kini memiliki cara unik dalam membayar pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan (PBB-P2). Mereka dapat melunasi kewajiban pajaknya dengan menggunakan hasil panen pisang cavendish.
Kepala Desa Bringinan, Barno, menjelaskan bahwa program ini sudah berjalan sejak 2024. Ribuan bibit pisang cavendish telah dibagikan secara gratis kepada warga. Hasil panen dari bibit tersebut kemudian bisa dibawa ke balai desa untuk ditimbang, dengan harga konversi Rp5.000 per kilogram.
“Awalnya pisang ini merupakan bantuan dari desa, setidaknya ada ribuan bibit pisang yang diberikan gratis kepada warga. Hasil panennya bisa buat bayar pajak, kalau kelebihan uangnya diberikan kembali kepada warga,” kata Barno, Sabtu (6/9/2025).
Hasil Panen Jadi Solusi Pajak
Barno menjelaskan, pisang yang terkumpul akan lebih dulu diproses oleh pihak desa sebelum dijual. Dana hasil penjualan tersebut kemudian digunakan untuk melunasi PBB-P2 warga.
Menurutnya, skema ini sangat membantu masyarakat yang kesulitan membayar pajak dengan uang tunai. Selain itu, program ini juga mendorong warga untuk mengolah pekarangan rumah menjadi lebih produktif.
“Selain untuk membayar PBB-P2, warga juga bisa menjual hasil panennya sendiri. Jadi selain meringankan pajak, mereka juga mendapat tambahan penghasilan,” imbuh Barno mengutip dari sinergiamediatama.
Baca Juga:
Fedi Nuril Desak Kapolri Mundur, Sentil Ucapan ‘Ikan Busuk Mulai dari Kepala’
Dorong Gotong Royong
Barno menilai, program ini bukan hanya meringankan beban ekonomi warga, tapi juga mempererat rasa kebersamaan. Warga saling bergotong royong untuk memanen pisang cavendish dari pekarangan masing-masing.
Dengan nilai jual yang relatif tinggi, pisang cavendish juga dinilai mampu meningkatkan taraf ekonomi masyarakat desa.
Warga Merasa Terbantu
Salah satu warga, Katimen, mengaku sangat terbantu dengan sistem pembayaran PBB-P2 menggunakan pisang ini.
“Ini tadi bayar pajak dengan pisang, nyicil, biar tenang. Sudah sejak 2024 bayar gini, ya, sangat terbantu,” ujarnya.
(Hafidah Rismayanti/Budis)











