BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Meski gagal mempertahankan medali emas di Kejuaraan Dunia 2025, pebulutangkis nomor satu dunia asal Korea Selatan, An Se Young, tetap dianggap sebagai sosok paling dominan di sektor tunggal putri. Dengan torehan tujuh gelar sepanjang musim ini, ia masih menunjukkan konsistensi luar biasa di level tertinggi.
Komentator legendaris BWF asal Inggris, Gillian Clark, menilai kekalahan An dari rival seniornya, Akane Yamaguchi, justru bisa menjadi titik balik. Dalam tulisannya, Clark menyebut bahwa seorang juara sejati selalu menemukan cara untuk bangkit, bahkan dari kekalahan paling menyakitkan.
“Seekor binatang yang terluka lebih berbahaya daripada yang sehat. Saya pikir trauma psikologis dan rasa sakit karena kalah di Kejuaraan Dunia telah membebani An Se Young. Tetapi ‘luka’ itu justru membuatnya lebih berbahaya dan berani, menunjukkan mentalitas luar biasa sebagai seorang juara,” tulis Clark, melansir BWF, Jumat (3/10/2025).
An Se Young sendiri sempat merasakan pukulan telak saat kalah dari Akane Yamaguchi di final tunggal putri BWF World Tour Super 500 Korea Open pekan lalu. Kekalahan itu mengakhiri rekor tak terkalahkannya di final musim ini dan menggagalkan gelar kedelapan pada 2025.
Baca Juga:
Akane Yamaguchi Hentikan Dominasi An Se Young, Rebut Gelar Korea Open 2025
Namun, secara keseluruhan, pencapaian An masih mencengangkan. Ia kini telah mengoleksi 28 gelar BWF World Tour (Super 300 ke atas), melampaui perolehan Viktor Axelsen (27 gelar), menjadikannya tunggal terbaik sepanjang sejarah World Tour modern. Meski belum memecahkan rekor gabungan dari era Super Series dan Grand Prix Gold, catatan itu tetap menjadi tonggak bersejarah.
Menariknya, An Se Young juga dikenal rajin mempelajari gaya bermain pemain tunggal putra papan atas. Ia mengaku sering menonton rekaman pertandingan Shi Yuqi (nomor 1 dunia saat ini), Kunlavut Vitidsarn (peraih perak Olimpiade Paris), dan Anders Antonsen (pemain top Denmark). Dari sanalah ia menimba inspirasi, termasuk variasi taktik dan pola bermain untuk meningkatkan kualitasnya.
Gillian Clark menegaskan, para juara besar tidak pernah puas dengan kejayaan masa lalu. Mereka selalu mencari cara untuk berkembang. Dalam konteks itu, kekalahan An justru menjadi bahan bakar untuk membentuk dirinya semakin tangguh.
Dengan usia yang masih 23 tahun dan mentalitas juara yang terus terasah, An Se Young kini dipandang bukan hanya sebagai pemain terkuat saat ini, tetapi juga ancaman terbesar bagi siapa pun di masa depan.
(Budis)











