JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID – Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus menegaskan, super flu sejatinya merupakan influenza musiman yang rutin muncul setiap tahun dan bukan penyakit baru yang berbahaya seperti COVID-19.
Benjamin menjelaskan, puncak penularan flu musiman biasanya terjadi pada periode Agustus hingga September. Sementara itu, tren kasus super flu justru sudah menunjukkan penurunan sejak Desember lalu.
“Ini hanya flu biasa, meskipun memang sedikit lebih infeksius. Tapi dampaknya tidak berat dan tidak meluas seperti COVID-19,” ujar Benjamin, dikutip dari CNN Indonesia.
Meski tingkat penularannya lebih cepat, super flu masih dapat ditangani dengan pengobatan yang tersedia. Masyarakat yang mengalami gejala berat disarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan agar mendapatkan obat yang sesuai.
“Kalau memang super flu, tentu obatnya disesuaikan. Tapi tetap harus berdasarkan anjuran dokter atau tenaga medis, tidak asal minum obat,” jelasnya.
Baca Juga:
Super Flu A H3N2 Merebak, Dinkes Minta Warga Waspada!
Kementerian Kesehatan mencatat hingga saat ini terdapat 62 kasus super flu yang terdeteksi di sejumlah wilayah Indonesia. Provinsi Jawa Timur menjadi daerah dengan jumlah kasus terbanyak, yakni 35 kasus.
“Total sekitar 62 kasus, dan paling banyak berada di Jawa Timur,” kata Benjamin saat berada di Makassar, Selasa (13/1).
Sebelumnya, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin juga menegaskan bahwa hingga kini belum ada laporan kematian akibat super flu. Ia menyebut tingkat kesembuhan pasien tergolong baik dan tidak menimbulkan dampak fatal.
“Belum ada laporan meninggal dunia karena ini memang flu seperti yang biasa kita alami,” kata Budi di RSUP Dr Sardjito, Sleman, Kamis (8/1).
Budi menekankan bahwa super flu atau Influenza A H3N2 subclade K bukan ancaman pandemi. Virus ini sudah dikenal dunia medis selama puluhan tahun, berbeda dengan COVID-19 yang merupakan virus baru dan belum memiliki imunitas alami di masyarakat saat pertama kali muncul.
“Virusnya sudah lama ada. Itu sebabnya daya tahan tubuh manusia terhadap influenza jauh lebih baik dibanding saat menghadapi COVID-19,” pungkasnya.











