JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) resmi menetapkan dua khazanah naskah kuno Indonesia, Sang Hyang Siksa Kandang Karesian dan Karya-karya Hamzah Fansuri, ke dalam register Memory of the World (MoW) atau Ingatan Kolektif Dunia periode 2024-2025.
Penetapan ini merupakan bagian dari 74 nominasi yang disetujui secara konsensus oleh Dewan Eksekutif UNESCO dalam sidang ke-221 di Paris, Prancis, pada Jumat (11/4/2025), dari total 122 nominasi awal yang diajukan oleh berbagai negara.
Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, E. Aminudin Aziz, menyambut baik pengakuan internasional ini.
“Keberhasilan meregistrasi dua warisan dokumenter ini patut disyukuri. Kami berharap, statusnya sebagai ingatan kolektif dunia akan membuatnya lebih dikenal oleh generasi masa kini dan mendatang,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (21/8/2025).
Aminudin menekankan pentingnya para pemangku kepentingan untuk membuat program pelestarian, promosi, dan pewarisan nilai-nilai yang terkandung dalam naskah tersebut. Ia juga mendorong generasi muda untuk mengaktualisasikan isi naskah melalui pendekatan kekinian.
“Misalnya dengan membuat komik, animasi, atau karya kreatif lainnya agar selalu relevan bagi masyarakat,” tambahnya.
Naskah Sang Hyang Siksa Kandang
Sang Hyang Siksa Kandang Karesian adalah naskah Sunda Kuno dari abad ke-16 yang diajukan secara mandiri oleh Perpusnas.
Naskah yang ditulis pada 1518 ini mengandung ajaran moral masyarakat Sunda yang menjunjung tinggi kejujuran dan integritas, serta menggambarkan dinamika sosial, politik, dan ekonomi pada masanya.
Keunikannya terletak pada penyebutan peran vital juru bahasa (jurubasa darmamurcaya) dalam hubungan internasional. Naskah yang hanya tersisa dua salinan di dunia ini disimpan di Perpusnas dengan nomor registrasi L 630.
Syair Karya Hamzah Fansuri
Sementara itu, Karya-karya Hamzah Fansuri diajukan bersama (joint nomination) oleh Perpusnas dan Perpustakaan Negara Malaysia.
Hamzah Fansuri diakui sebagai tokoh revolusioner yang meletakkan dasar-dasar pemikiran keagamaan dan sastra Melayu pada akhir abad ke-16.
Ia adalah pelopor penulisan karya akademis sistematis (kitab) dan puisi dalam bahasa Melayu, serta mendobrak tradisi anonim dengan mencantumkan namanya di setiap karyanya.
Pengaruh syair-syairnya menyebar luas ke seluruh Nusantara dan menjadi cikal bakal sastra modern Indonesia dan Malaysia.
BACA JUGA
Selain Agama, Naskah Sang Hyang Siksa Kandang Karesian Ternyata Bahas Soal Tata Kelola Pemerintahan
Perpusnas Serahkan Sertifikat MoW UNESCO atas Naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian
Raihan 5 Warisan, Sejajar dengan Prancis
Dalam periode registrasi yang sama, Indonesia secara keseluruhan berhasil memasukkan lima warisan dokumenter ke dalam MoW, menyamai Prancis sebagai negara dengan jumlah nominasi terbanyak. Tiga warisan lainnya adalah:
- Arsip Tarian Jawa Mangkunegaran (1861-1944), diajukan oleh Pura Mangkunegaran dan ANRI.
- Surat-surat dan Arsip Kartini, diajukan bersama oleh ANRI dengan National Archives of Netherlands dan Leiden University Library.
- Arsip Lahirnya ASEAN (1967-1976), diajukan bersama oleh ANRI dengan arsip nasional Malaysia, Singapura, dan Thailand.
Dengan kelima tambahan baru ini, total warisan dokumenter Indonesia yang tercatat dalam register Memory of the World UNESCO kini berjumlah 16, dari sebelumnya 11 warisan.
Pencapaian ini semakin mengukuhkan posisi Indonesia sebagai penjaga khazanah budaya dan sejarah dunia yang sangat berharga.
(Aak)











