BANDUNG,TEROPONGMEDIA.ID — Semangat solidaritas Asia-Afrika kembali membara di Kota Bandung, tempat lahirnya sejarah besar Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955. Ratusan pemuda dari berbagai negara Asia dan Afrika berkumpul dalam Asia Africa Youth Forum (AAYF) 2025 yang resmi dibuka di Gedung Merdeka.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan, forum ini bukan sekadar ajang pertemuan, melainkan wujud nyata untuk menjaga api solidaritas Asia-Afrika agar terus menyala lintas generasi.
“AAYF ini program dari anak-anak muda yang didukung oleh Bagian Kerja Sama Setda Kota Bandung. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menjaga semangat solidaritas Asia-Afrika agar hidup setiap tahun,” kata Farhan.
Farhan juga menautkan kegiatan ini dengan langkah Pemkot Bandung untuk mendaftarkan Kawasan Konferensi Asia-Afrika sebagai Warisan Dunia Memory of the World UNESCO. Dirinya berharap kegiatan seperti AAYF dapat memperkuat posisi Bandung sebagai Ibu Kota Solidaritas Asia-Afrika.
“Program seperti ini penting untuk dicatat dan didukung banyak negara agar pendaftaran kawasan KAA 1955 ke UNESCO berjalan lancar,” ucapnya.
Farhan juga mengajak para pemuda Asia dan Afrika untuk meneladani semangat para pemimpin muda 70 tahun silam yang berjuang demi kemerdekaan dan persatuan.
Tahun ini, AAYF mengusung tema “Youth Driving the Global South through Tourism, Trade, and Investment” sebagai bentuk komitmen untuk membangun kesejahteraan ekonomi mandiri.
“Kemerdekaan bukan hanya bebas dari penjajahan, tapi perjuangan untuk berdiri di atas kaki sendiri. Pariwisata, perdagangan, dan investasi adalah jalan baru menuju kemandirian ekonomi,” ujarnya.
Farhan menilai, Asia dan Afrika kini tumbuh sebagai kekuatan ekonomi global. Dirinya mencontohkan kebangkitan Tiongkok, India, serta negara-negara Asia Tenggara, dan peran penting Afrika melalui negara-negara seperti Nigeria dan Ethiopia.
“Afrika bukan sekadar tanah kaya sumber daya, tapi benua penting bagi masa depan dunia. Hubungan Asia-Afrika bukan hanya soal politik dan ekonomi, melainkan tentang kemanusiaan dan sejarah panjang kita sebagai manusia,” katanya.
Sementara itu, Ketua AAYF 2025 Priyanka Puteri Ariffia menjelaskan, forum ini berlangsung hingga 19 Oktober 2025, bertempat di Gedung Merdeka dan Hotel Savoy Homann. Tiga sektor utama pariwisata, perdagangan, dan investasi dipilih karena menjadi akar kolaborasi ekonomi kreatif anak muda.
Baca Juga:
Festival Asia Afrika Bakal Meriah, DLH Bandung Pastikan Kota Tetap Bersih
Daftar Event di Bandung Sepanjang Oktober 2025, dari Festival Asia Afrika hingga Konser Peterpan
“Tourism menjadi pintu pembuka perdagangan, dan dari perdagangan lahirlah investasi. Semua berawal dari kreativitas anak muda,” ujar Priyanka.
Sebelum acara puncak, digelar tiga pre-event di berbagai wilayah Bandung yakni Bandung Jazz Jamming di Bandung Utara, Bandung Music Journey di Bandung Timur, dan Ngarumat Jeng Ngaruat Kota Bandung di Bandung Selatan. Setiap kegiatan menampilkan keunikan budaya lokal, dari musik modern hingga tradisi Sunda.
Puncak acara menampilkan Opening Ceremony dan Talkshow Tourism, Trade, and Investment (TTI) di Gedung Merdeka, dilanjutkan dengan forum delegasi pada 17 Oktober, dan ditutup pada 19 Oktober di Kampung Toleransi, Bandung Barat, lewat festival bertema “Ngariung Dina Beda, Ngahiji Dina Rasa.”
Hasil dari forum ini akan dirangkum dalam Joint Statement yang diserahkan kepada Pemerintah Kota Bandung sebagai rekomendasi kebijakan pengembangan pemuda dan ekonomi kreatif.
“Kami ingin memastikan suara pemuda menjadi bagian dari arah pembangunan. AAYF bukan hanya forum, tapi ruang lahirnya gagasan untuk masa depan,” pungkasnya.
AAYF 2025 menghadirkan 199 delegasi muda dari berbagai negara Asia dan Afrika, dengan 123 di antaranya berasal dari Bandung. Melalui forum ini, para peserta berkomitmen meneguhkan Bandung sebagai pusat solidaritas Asia-Afrika dan rumah bagi generasi muda kreatif, progresif, serta berdaya saing global.
(Kyy/_Usk)









