BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Penampilan Aryna Sabalenka di acara Piers Morgan Uncensored bersama Nick Kyrgios berubah menjadi momen yang memperlihatkan salah satu sikap paling berani yang pernah ia tunjukkan di luar lapangan.
Di saat gelombang atlet Rusia dan Belarusia memilih mengubah kewarganegaraan demi kenyamanan politik dan peluang bertanding, Sabalenka justru mengambil posisi sebaliknya dengan melawan arus, dengan suara yang penuh keyakinan.
Piers Morgan, yang dikenal tidak ragu mengajukan pertanyaan tajam, menanyakan isu yang sudah lama menjadi bayang-bayang dalam karier Sabalenka.
Apakah ia akan mengikuti langkah para atlet lain dengan mengganti kewarganegaraan, terutama menjelang turnamen besar seperti Olimpiade?
Pertanyaan itu relevan, mengingat sejumlah atlet ternama dari Rusia serta Belarusia telah “berpindah bendera” dalam dua tahun terakhir demi bisa tetap bersaing di panggung internasional.
Namun Sabalenka, juara US Open 2025 dan peringkat satu dunia, memilih berdiri tegak dalam identitasnya.
“Saya selalu bangga mewakili negara sekecil ini. Mengubah kewarganegaraan bukan pilihan bagi saya, karena itu berarti saya mengkhianati anak-anak di Belarus yang menjadikan saya panutan,” ujarnya, dikutip Jumat (12/12/2025).
Baca Juga:
Aryna Sabalenka Tumbangkan Cori Gauff, Lolos ke Semifinal WTA Finals 2025
Baginya, representasi bukan sekadar bendera yang ia bawa, tetapi simbol harapan. Sabalenka menegaskan bahwa melihatnya tetap berjuang sebagai atlet Belarusia dapat memberi inspirasi nyata bagi generasi muda di negara tersebut.
“Kalau saya bisa mencapai puncak dunia dari negara kecil seperti Belarus, saya ingin mereka percaya bahwa mereka juga bisa,” lanjutnya.
Sikap Sabalenka menjadi semakin kontras jika melihat daftar panjang atlet yang memilih pindah kewarganegaraan baru-baru ini. Anastasia Potapova memutuskan mewakili Austria mulai 2026, Daria Kasatkina resmi tampil sebagai atlet Australia, Varvara Gracheva berganti menjadi warga negara Prancis pada 2023, dan Elina Avanesyan kini membela Armenia.
Di tengah gelombang besar perubahan tersebut, Sabalenka berdiri sebagai pengecualian. Keputusannya bukan hanya tentang patriotisme, melainkan tentang loyalitas di tengah tekanan global yang rumit.
Ia mengirimkan pesan kuat kepada para atlet muda di Belarus, bahwa identitas tidak harus dikorbankan demi kesempatan, dan bahwa keteguhan pendirian masih dapat membawa seseorang menuju panggung tertinggi dunia.
Dengan jawaban itu, Sabalenka menunjukkan bahwa menjadi nomor satu bukan hanya soal kemampuan memegang raket, tetapi juga keberanian memegang prinsip.
(Budis)










