JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID – Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, mendorong revitalisasi total kawasan Objek Wisata Guci di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, pascabanjir bandang yang merusak sejumlah fasilitas utama. Ia juga meminta agar akses menuju ikon wisata Pancuran 13 kembali digratiskan guna mempercepat pemulihan ekonomi warga sekaligus menarik kembali kunjungan wisatawan yang sempat turun drastis.
Menurut Abdul Fikri, kebijakan penggratisan akses ini dinilai krusial lantaran perubahan sistem pengelolaan selama beberapa tahun terakhir membuat tiket masuk menjadi beban tambahan bagi wisatawan.
Menurutnya, sebelum 2019, pengunjung Pancuran 13 hanya dikenai tarif sekitar Rp10 ribu per orang. Namun setelah pengelolaan dilakukan melalui kerja sama antara Balai Konservasi Sumber Daya Alam dan pihak swasta, biaya masuk melonjak signifikan hingga mencapai Rp27 ribu.
“Kami telah mendengarkan aspirasi masyarakat yang ingin mengembalikan tata kelola seperti sebelum tahun 2019,” kata Fikri.
Ia menambahkan bahwa setelah revitalisasi fisik dan rekonstruksi kawasan selesai, pengelolaan objek wisata harus diserahkan kembali kepada masyarakat lokal tanpa pungutan biaya. Hal ini penting, menurut Fikri, untuk menguatkan arti dan makna keberadaan Pancuran 13 sebagai ruang publik yang memberikan manfaat luas bagi warga dan pengunjung.
Revitalisasi Menyeluruh, Tak Sekadar Infrastruktur
Menurut Abdul Fikri, proses pemulihan kawasan Objek Wisata Guci tidak seharusnya hanya berfokus pada pembenahan sarana fisik pascabencana.
Ia menekankan pentingnya penataan terpadu yang juga menyasar aspek lingkungan, mulai dari reboisasi hingga penguatan langkah mitigasi, guna menekan potensi terulangnya bencana serupa di kemudian hari.
“Penataan secara komprehensif harus dibarengi reboisasi serta upaya mitigasi yang nyata agar kejadian seperti ini tidak kembali terulang,” kata Fikri.
Di sisi lain, kebijakan berbayar dalam pengelolaan Pancuran 13 dinilai membatasi akses masyarakat, terutama warga sekitar. Padahal, pemandian air panas alami tersebut selama ini menjadi destinasi favorit warga maupun wisatawan, sekaligus memiliki peran strategis dalam menopang aktivitas sosial dan perekonomian lokal.
Pascabencana: Dampak Banjir Bandang
Permintaan legislatif tersebut muncul di tengah upaya pemulihan kawasan wisata Guci yang sebelumnya diterjang banjir bandang pada akhir 2025 dan awal 2026. Banjir bandang yang dipicu oleh hujan lebat dan kondisi hulu sungai menyebabkan jembatan penghubung serta beberapa fasilitas wisata rusak parah, termasuk area utama Pancuran 13. Kerusakan ini memaksa pemerintah daerah dan instansi terkait untuk menutup sementara akses dan fokus pada penanganan darurat serta rehabilitasi fasilitas.
Selain soal penggratisan akses, legislator juga mengusulkan agar pemerintah memanfaatkan peluang pendanaan melalui skema dana khusus pariwisata dari kementerian terkait guna mendukung proses rekonstruksi kawasan, mengingat adanya pengurangan dana transfer daerah dari pemerintah pusat.
Harapan Kolaboratif
Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, turut menegaskan pentingnya kolaborasi lintas pemangku kepentingan agar kawasan Objek Wisata Guci dapat kembali bangkit sebagai destinasi unggulan yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.
Ia menilai, pendekatan penataan kawasan wisata yang inklusif tidak hanya ditujukan untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak, tetapi juga harus mampu menopang keberlangsungan ekonomi warga sekaligus menjaga kelestarian lingkungan di sekitar kawasan wisata.
(Magang UIN Sunan Gunung Djati Bandung/Khusnul Yulida)











