BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Ratusan warga korban banjir di Pamanukan, kawasan Pantura Kabupaten Subang, Jawa Barat, masih bertahan mengungsi di kolong jalan layang (flyover) Pamanukan hingga Sabtu (31/1/2026) pagi.
Kondisi tersebut terjadi meskipun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Subang telah menyiapkan sejumlah lokasi pengungsian alternatif yang dinilai lebih layak.
Pantauan di lokasi menunjukkan kolong flyover masih dipenuhi warga yang beraktivitas di tengah keterbatasan ruang dan fasilitas. Sejumlah pengungsi terlihat beristirahat di atas alas seadanya, sementara sebagian lainnya mulai beraktivitas sejak pagi hari.
Anak-anak hingga lanjut usia pun tampak berada di area tersebut.
Pengungsian Resmi Sudah Disiapkan Pemkab
Sebelumnya, Pemkab Subang telah melakukan upaya relokasi pengungsi dari kolong flyover ke beberapa lokasi pengungsian terpusat. Tempat yang disiapkan antara lain kantor kecamatan, pondok pesantren, sekolah, serta masjid-masjid yang berdekatan dengan dapur umum.
Lokasi-lokasi tersebut dinilai memiliki fasilitas yang lebih memadai, termasuk akses air bersih, sanitasi, serta distribusi bantuan logistik yang lebih terorganisasi.
Aparat pemerintah daerah bersama relawan telah melakukan sosialisasi kepada warga agar berpindah ke tempat pengungsian yang telah disiapkan.
Alasan Warga Enggan Pindah
Meski demikian, tidak seluruh pengungsi bersedia meninggalkan kolong flyover. Salah seorang warga, Silvina, mengaku memilih bertahan karena lokasi pengungsian dinilai terlalu jauh dari rumahnya.
“Lokasi pengungsian jauh dari rumah, jadi kami kesulitan mengangkut barang-barang. Selain itu, kami juga sering tidak kebagian bantuan,” ujarnya, melansir Berita Satu, Sabtu.
Menurutnya, sebagian warga memilih tetap berada di sekitar tempat tinggal agar dapat memantau kondisi rumah dan harta benda yang ditinggalkan akibat banjir.
Baca Juga:
KDM Gebrak Meja, Terungkap Sumbangan Puluhan Juta ke Penjual Es Kue Jadul
Kapolres Sleman Dinonaktifkan, 2 Kasus Ini Bikin Gaduh Publik
Kebutuhan Dasar Masih Dibutuhkan
Hal serupa disampaikan pengungsi lain, Sinta, yang menyebut bahwa kebutuhan dasar di lokasi kolong flyover masih belum terpenuhi secara maksimal.
“Kami sangat membutuhkan air bersih untuk mandi, cuci, kakus, serta air minum, makanan siap saji, pakaian, dan alas tidur,” kata Sinta.
Kondisi sanitasi di kolong flyover terpantau terbatas. Warga mengandalkan pasokan air seadanya dan bantuan dari relawan maupun pihak terkait yang datang secara berkala.
Aktivitas Pengungsi di Tengah Keterbatasan
Di lokasi, pengungsi terlihat menjalani aktivitas harian seperti memasak, membersihkan area sekitar, hingga mengasuh anak-anak. Sebagian warga tampak masih terlelap pada pagi hari akibat keterbatasan waktu dan kualitas istirahat pada malam sebelumnya.
Kolong flyover yang digunakan sebagai tempat mengungsi tidak dirancang sebagai hunian sementara, sehingga minim ventilasi dan fasilitas penunjang lainnya. Namun, lokasi tersebut dinilai warga lebih dekat dengan permukiman terdampak banjir.











