BANDUNG,TEROPONGMEDIA.ID — Di tengah meningkatnya volume timbunan sampah yang jadi momok bagi kota besar, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung tak tinggal diam.
Lewat kombinasi teknologi modern dan kolaborasi masyarakat, Bandung mulai menunjukkan hasil nyata dalam mengurangi beban sampah harian yang menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Meski persoalan sampah masih jadi tantangan klasik, Wakil Wali Kota Bandung, Erwin, memastikan kondisi pengelolaan sampah di Kota Bandung belum masuk kategori darurat.
“Alhamdulillah, belum darurat. Saat ini kita sudah memiliki 11 insinerator yang beroperasi di sejumlah titik kota,” kata Erwin, Kamis (16/10/2025).
Menurutnya, kehadiran 11 unit insinerator berbasis teknologi thermal menjadi langkah besar dalam mempercepat pengolahan sampah. Mesin-mesin ini tersebar di berbagai wilayah seperti Batu Rengat (Bandung Kulon), Bakul Agamis, Cicukang Holis, Sumur Bandung, TPS Patrakomala, Cinambo, UPT Alat Berat DSDADM, Lengkong, Sesko AD Buah Batu, Kiaracondong, Cibeunying, dan Antapani.
Beberapa di antaranya, seperti di Lengkong dan Buah Batu, dibangun melalui skema investasi Wisang Geni yang melibatkan pihak ketiga.
“Sebagian besar proyek ini hasil kerja sama investasi swasta. Tahun depan, kami juga akan memperkuat pendanaannya lewat APBD 2026,” ucapnya.
Baca Juga:
Pemkot Bandung Dorong Kawasan Konferensi Asia Afrika Masuk Daftar UNESCO Memory of the World
Pemkot Bandung Perketat Pengawasan Program MBG, Semua Penyedia Wajib Kantongi Sertifikat SLHS
Selain insinerator, Pemkot Bandung juga mengoptimalkan program maggotisasi yakni pengolahan sampah organik dengan larva lalat tentara hitam serta memperluas Kawasan Bebas Sampah (KBS) yang kini sudah terbentuk di ratusan titik.
Berdasarkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mencatat, produksi sampah Kota Bandung sebelumnya mencapai 1.496 ton per hari. Namun, berkat penguatan sistem pengolahan dan keterlibatan warga, angka tersebut kini mulai menurun.
“Kalau sebelumnya pengiriman sampah ke TPA mencapai 1.140 ton per hari, sekarang turun menjadi sekitar 980 ton. Artinya sudah ada penurunan yang cukup signifikan,” ujarnya.
Dari total timbunan harian itu, sekitar 520 ton sampah berhasil direduksi berkat operasi insinerator dan pengolahan mandiri di masyarakat.
Erwin menegaskan, keberhasilan menekan volume sampah tidak hanya bergantung pada teknologi, tapi juga pada kesadaran dan partisipasi masyarakat.
Lewat program Kawasan Bebas Sampah, warga didorong untuk memilah sampah sejak dari rumah, sehingga sampah organik bisa diolah dan anorganik bernilai jual.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kalau masyarakat ikut bergerak, hasilnya akan jauh lebih besar. Bandung bisa jadi kota yang bersih, modern, dan berkelanjutan,” katanya.
Langkah Pemkot Bandung dinilai sebagai komitmen nyata untuk mengatasi persoalan lingkungan dengan cara yang lebih cerdas. Pemerintah bukan hanya fokus mengangkut sampah, tapi juga membangun sistem yang mengubah sampah jadi sumber daya.
“Dari 520 ton sampah yang bisa direduksi setiap hari, kami ingin terus menekan lebih jauh lagi lewat sinergi semua pihak. Dengan kolaborasi dan teknologi, kami yakin Bandung bisa jadi contoh kota berkelanjutan di Indonesia,” pungkasnya.
(Kyy/_Usk)










