JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Friderica Widyasari Dewi tengah menjadi sorotan publik setelah resmi ditunjuk sebagai Anggota Dewan Komisioner Pengganti Ketua dan Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Penunjukan ini menempatkannya sebagai figur sentral dalam pengawasan stabilitas sektor jasa keuangan nasional.
Di balik posisinya yang strategis tersebut, Friderica memiliki pendamping hidup dengan rekam jejak panjang di sektor keamanan negara. Ia adalah Komisaris Jenderal Polisi (Purn.) Drs. Eddy Hartono, purnawirawan Polri yang dikenal luas di lingkaran penanggulangan terorisme nasional.
Profil Eddy Hartono
Eddy Hartono lahir di Blora, Jawa Tengah, pada 16 Mei 1967. Ia merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 1990 dan mengabdikan diri di Kepolisian Negara Republik Indonesia selama kurang lebih 35 tahun, hingga pensiun pada 2025.
Sebagian besar karier Eddy Hartono dijalani di bidang reserse dan intelijen, terutama dalam penanganan tindak pidana terorisme. Rekam jejak tersebut menjadikannya salah satu perwira yang lama berkecimpung di unit-unit strategis Polri.
Kiprah Panjang di Densus 88 Anti Teror
Nama Eddy Hartono sangat lekat dengan Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri, satuan elit yang menjadi garda terdepan penanganan terorisme di Indonesia.
Ia tercatat dua kali menjabat sebagai Wakil Kepala Densus 88, masing-masing pada periode 2014–2015 dan 2017–2018.
Tidak hanya itu, Eddy Hartono juga dipercaya memimpin langsung satuan tersebut sebagai Kepala Densus 88 Anti Teror pada periode 2015–2017.
Pengalaman operasional dan kepemimpinannya di Densus 88 menjadi fondasi penting dalam penanganan berbagai kasus terorisme yang terjadi di Indonesia pada periode tersebut.
Menjabat Kepala BNPT hingga Pensiun
Setelah melalui berbagai penugasan strategis, Eddy Hartono dipercaya menjabat sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sejak 11 September 2024, menggantikan Mohammed Rycko Amelza Dahniel.
Sebagai Kepala BNPT, Eddy Hartono memimpin koordinasi nasional dalam pencegahan, penindakan, serta deradikalisasi terorisme, bekerja sama dengan berbagai kementerian, lembaga, dan aparat keamanan.
Jabatan terakhir Eddy Hartono di tubuh Polri sebelum pensiun adalah sebagai Widyaiswara Kepolisian Utama Tingkat I Sespim Lemdiklat Polri, posisi yang berfokus pada pembinaan dan pendidikan perwira tinggi.
Pendidikan dan Kompetensi Profesional
Selain pendidikan dasar kepolisian di Akpol, Eddy Hartono juga menempuh berbagai pendidikan lanjutan, termasuk Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) pada tahun 2000 serta pendidikan kepemimpinan strategis Polri.
Latar pendidikan tersebut memperkuat kapasitasnya dalam perumusan kebijakan keamanan nasional, khususnya dalam isu terorisme dan intelijen.
Baca Juga:
Ini Penyebab OJK Cabut Izin Usaha PT Varia Intra Finance
OJK Jawa Barat Dukung Revitalisasi Lahan Kritis Melalui Pengembangan Kakao, Kelapa dan Kopi
Dua Figur Negara dalam Satu Rumah
Kisah Friderica Widyasari Dewi dan Eddy Hartono memperlihatkan dua jalur pengabdian negara yang berbeda, namun sama-sama berada di posisi strategis.
Friderica berperan dalam menjaga stabilitas sistem keuangan nasional, sementara Eddy Hartono mengabdikan diri di sektor keamanan dan penanggulangan terorisme.
Keduanya dikenal memiliki latar pendidikan tinggi dan pengalaman panjang di bidang masing-masing, menjadikan pasangan ini sebagai figur publik dengan peran penting dalam lanskap institusional Indonesia.
(Dist)











