BUTON, TEROPONGMEDIA.ID – Di ujung timur Nusantara, sebuah desa kecil di Kecamatan Sampolawa, Kabupaten Buton Selatan, tengah naik daun sebagai model desa wisata yang tumbuh dari kekuatan masyarakatnya sendiri. Pantai Lagunci, yang dulunya hanya dikenal warga sekitar sebagai lokasi rekreasi sederhana, kini menjelma menjadi desa wisata berkarakter kuat dengan kombinasi budaya, alam, dan kearifan lokal.
Daya Tarik Utama
Alih-alih hanya mengandalkan panorama pantai dan bukit, Desa Wisata Lagunci menonjolkan identitasnya sebagai desa pesisir yang hidup selaras dengan alam. Lanskap pesisir dengan pasir putih lembut dan laut bening memang menjadi magnet, namun jantung sesungguhnya dari desa ini adalah kehidupan masyarakat yang masih menjaga budaya dan adat.
Kolam-kolam alami di antara karang, perbukitan hijau, serta pemandangan matahari terbenam hanyalah bagian dari daya tarik visual. Lebih dari itu, wisatawan disuguhkan pengalaman hidup desa — suasana yang tidak dibuat-buat, tanpa sentuhan industrialisasi pariwisata yang berlebihan.
Pariwisata Berbasis Komunitas, Warga yang Jadi Tuan Rumah Sesungguhnya
Pengembangan Desa Wisata Lagunci bukanlah proyek instan. Warga desa, melalui kelompok sadar wisata dan pemerintah kampung, berperan sebagai pengelola utama kegiatan wisata. Mereka terlibat mulai dari penyediaan penginapan, pengelolaan kebersihan pantai, hingga penyelenggaraan atraksi budaya.
Model ini membuat perjalanan wisata ke Lagunci terasa lebih personal. Tamu disambut seperti keluarga, bukan sekadar turis. Tarian adat, musik gong, dan gendang tradisional kerap ditampilkan bukan sebagai pertunjukan komersial, melainkan sebagai bentuk penghormatan bagi tamu yang datang.
Baca Juga:
Desa Pemuteran Raih Gelar Desa Wisata Terbaik Dunia 2025
Desa Wisata Jatiluwih, Ikon Pariwisata Kelas Dunia yang Menyatukan Alam, Budaya dan Kearifan Bali
Ekowisata
Sebagai desa wisata, Lagunci punya komitmen tinggi pada konservasi. Warga melaksanakan pembersihan pantai rutin, menjaga formasi karang, dan menerapkan edukasi ekowisata bagi pengunjung. Fasilitas wisata dibangun secara sederhana dengan bahan-bahan ramah lingkungan, menjaga agar karakter alam tidak berubah menjadi buatan.
Wisatawan juga diarahkan untuk mengikuti kegiatan sadar lingkungan, mulai dari menjaga kebersihan hingga mengenal proses pelestarian biota laut.
Kegiatan Wisata yang Dekat dengan Kehidupan Desa
Di Lagunci, pengalaman wisata tidak berhenti pada berenang atau snorkeling. Wisatawan dapat:
- mendaki bukit untuk menikmati panorama desa dari ketinggian,
- ikut memancing bersama nelayan lokal,
- mencicipi kuliner hasil laut yang dimasak langsung oleh warga,
- atau menghabiskan waktu di gazebo bambu sambil bercengkerama dengan penduduk desa.
Wisata yang ditawarkan bukan sekadar hiburan, tetapi kesempatan untuk memahami cara hidup masyarakat pesisir Buton Selatan.
Fasilitas Sederhana
Meski fasilitas wisata masih tergolong sederhana, mulai dari penginapan homestay, warung makan tradisional, hingga toilet umum, hal ini justru menjadi kekuatan desa wisata. Pengunjung diajak kembali pada esensi perjalanan: menikmati alam dan berinteraksi dengan masyarakat lokal.
Akses menuju Pantai Lagunci dapat ditempuh melalui perjalanan darat dari ibu kota kabupaten. Meski beberapa ruas jalan masih menantang, petualangan menuju desa ini menjadi bagian dari pengalaman yang tidak terlupakan.
Desa Wisata Andalan
Pemerintah Kabupaten Buton Selatan terus mendukung perkembangan Desa Wisata Lagunci melalui pelatihan pemandu wisata, promosi pariwisata, hingga pembangunan infrastruktur dasar. Namun, kunci keberhasilan desa ini tetap berada di tangan masyarakatnya.
Dengan kekayaan budaya, komitmen lingkungan, dan semangat gotong royong, Desa Wisata Pantai Lagunci berpotensi menjadi ikon baru pariwisata Sulawesi Tenggara.











