BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Pagi di Sanankerto selalu dimulai dengan cara yang sederhana. Kabut tipis perlahan terangkat dari sela-sela rumpun bambu, sementara cahaya matahari menembus celah dedaunan, memantul lembut di permukaan telaga. Udara terasa sejuk, bersih, dan tenang, seolah mengajak siapa pun yang datang untuk memperlambat langkah dan menarik napas lebih dalam.
Di sinilah Desa Wisata Sanankerto berada, sebuah desa di Kabupaten Malang yang menjadikan alam bukan sekadar latar, melainkan bagian dari kehidupan warganya. Hamparan bambu yang menjulang, tanah yang subur, dan suasana pedesaan yang rapi menciptakan kesan pertama yang sulit dilupakan. Desa ini tidak menawarkan gemerlap, melainkan keteduhan.
Langkah wisatawan biasanya akan berakhir di kawasan Boonpring. Hutan bambu seluas 24 hektare itu menjadi jantung desa, tempat lebih dari seratus jenis bambu tumbuh berdampingan. Ketika angin berembus, daun-daun bambu beradu pelan, menghasilkan suara alami yang menenangkan. Banyak pengunjung memilih berjalan santai di jalur setapak, menikmati bayangan bambu yang memanjang di tanah, atau duduk sejenak di tepi telaga sambil memandangi air yang tenang.
Boonpring bukan hanya tentang keindahan visual. Kawasan ini terasa hidup. Anak-anak tertawa saat berenang di kolam, keluarga menyusuri telaga dengan perahu angsa, sementara sebagian pengunjung lain memilih menjelajah area hijau dengan kendaraan wisata. Semua aktivitas itu menyatu tanpa mengganggu harmoni alam di sekitarnya.
Baca Juga:
Forkomdewi Bali Desak Pemerintah Perkuat Desa Wisata, Tingkatkan Dampak Ekonomi
Yang membuat Sanankerto berbeda adalah bagaimana alam dirawat dengan penuh kesadaran. Setiap sudut desa terasa bersih dan tertata, tanpa kehilangan kesan alami. Hutan bambu tidak dieksploitasi, tetapi dijaga sebagai ruang belajar, bermain, dan bernapas. Bambu tidak hanya berdiri sebagai lanskap, melainkan juga hadir dalam kehidupan sehari-hari warga, menjadi kerajinan, perabot, hingga identitas desa.
Di luar kawasan Boonpring, suasana desa tetap mengalir pelan. Rumah-rumah warga berdiri rapi, diapit pepohonan dan kebun kecil. Dari kejauhan, terlihat warga menata dagangan UMKM, menawarkan makanan tradisional dan kerajinan lokal. Tidak ada hiruk-pikuk, hanya ritme desa yang berjalan apa adanya.
Menjelang sore, cahaya matahari berubah keemasan. Sinar lembut menyusup di antara batang bambu, menciptakan bayangan panjang yang bergerak perlahan. Banyak wisatawan memilih mengakhiri hari dengan duduk diam, menikmati momen senja tanpa gangguan. Di Sanankerto, keindahan tidak perlu dikejar, ia hadir dengan sendirinya.
Desa Wisata Sanankerto mengajarkan satu hal sederhana: bahwa alam yang dirawat dengan baik akan selalu memberi rasa nyaman. Bukan hanya untuk dilihat, tetapi juga untuk dirasakan. Di bawah naungan bambu dan langit Malang yang teduh, desa ini menawarkan ketenangan yang kini semakin langka.
Sanankerto bukan sekadar tujuan liburan. Ia adalah ruang untuk berhenti sejenak, menyatu dengan alam, dan pulang dengan kepala yang lebih jernih.
(Budis)











