BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Pagi di kaki Gunung Ciremai selalu datang dengan cara yang lembut. Kabut tipis menggantung di antara rumpun bambu, sawah-sawah basah memantulkan cahaya matahari, dan udara sejuk menyapa siapa saja yang melangkah masuk ke Desa Wisata Cibuntu, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
Di desa inilah, waktu seolah berjalan lebih pelan. Suara ayam bersahut-sahutan, gemericik air dari saluran irigasi, serta senyum warga yang menyapa tulus menjadi kesan pertama bagi wisatawan yang datang. Cibuntu bukan sekadar tempat singgah, melainkan ruang untuk merasakan kembali kehidupan desa yang sederhana namun penuh makna.
Sulit membayangkan bahwa kawasan yang kini hijau dan tertata ini dulunya merupakan bekas galian pasir dan batu. Perlahan, melalui kerja sama masyarakat, pemerintah daerah, dan akademisi, Cibuntu bertransformasi menjadi desa wisata berbasis agroekowisata organik. Alam dipulihkan, tanah kembali ditanami, dan pariwisata dibangun tanpa meninggalkan akar kehidupan warga.
Jejak sejarah pun terasa kuat di sini. Di sela hamparan kebun dan perkampungan, terdapat situs purbakala seperti Situs Hulu Dayeuh dan Situs Saurip. Batu-batu tua itu menjadi saksi bahwa Cibuntu telah lama menjadi ruang hidup manusia sejak masa lampau. Sejarah, alam, dan kehidupan sehari-hari menyatu tanpa sekat.
Bagi wisatawan, menjelajahi Cibuntu adalah tentang pengalaman, bukan sekadar melihat-lihat. Langkah kaki bisa membawa siapa saja menuju Air Terjun Gongseng, di mana air jernih dari lereng Ciremai jatuh membentuk kolam alami. Banyak pengunjung memilih duduk berlama-lama di tepi air, membiarkan suara alam menenangkan pikiran.
Tak jauh dari sana, Pager Gunung Campsite menawarkan suasana berkemah di tengah alam terbuka. Saat malam tiba, udara dingin dan langit bertabur bintang menjadi teman, sementara pagi hari sering diwarnai kemunculan lutung yang melintas di pepohonan. Bagi pencinta tantangan, jalur offroad di kawasan pohon karet menghadirkan sensasi berbeda, memacu adrenalin sekaligus membuka sudut pandang baru tentang alam desa.
Cibuntu juga menyuguhkan pengalaman yang lebih tenang. Mata Air Kahuripan, misalnya, menjadi tempat favorit untuk menikmati air murni langsung dari sumbernya. Banyak wisatawan percaya air ini membawa kesegaran alami, bukan hanya bagi tubuh, tetapi juga bagi pikiran.
Baca Juga:
Pemuteran Bali Masuk Daftar 52 Desa Wisata Terbaik Dunia 2025 Versi PBB
Interaksi dengan warga menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan di Cibuntu. Di Kampung Domba, wisatawan bisa belajar langsung tentang peternakan yang dikelola masyarakat. Di kebun ubi, tangan-tangan kota yang jarang menyentuh tanah diajak memanen hasil bumi. Ada pula terapi ikan yang sederhana, namun selalu ramai oleh tawa pengunjung.
Saat senja datang, suasana desa semakin terasa hangat. Asap tipis mengepul dari dapur rumah warga, aroma masakan kampung menyebar, dan obrolan ringan terdengar dari teras-teras rumah. Wisatawan yang memilih menginap di homestay akan merasakan langsung kehidupan desa, makan bersama tuan rumah, berbagi cerita, dan bangun pagi dengan suara alam, bukan deru kendaraan.
Akses menuju Desa Wisata Cibuntu relatif mudah, baik dari Kuningan maupun Cirebon. Namun, begitu tiba, jarak dari hiruk-pikuk kota terasa sangat jauh. Di sinilah daya tarik Cibuntu: sebuah desa yang tidak menawarkan kemewahan, tetapi menghadirkan ketenangan, keaslian, dan pengalaman yang membekas.
Bagi siapa pun yang rindu pada suasana alam pegunungan, keramahan warga, dan wisata yang berpijak pada kehidupan lokal, Cibuntu bukan hanya destinasi. Ia adalah cerita yang pelan-pelan mengalir, dan sering kali membuat orang ingin kembali.
(Budis)











