JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Seto Mulyadi alias Kak Seto khirnya memberikan klarifikasi usai menjadi perbincangan panas setelah arsip berita lama tahun 2010 mencuat bersamaan dengan rilis buku memoar Broken Strings karya Aurelie Moeremans.
Melalui akun Instagram resminya, @kaksetosahabatanak, Kak Seto meminta masyarakat agar tidak terpancing emosi dan menyikapi isu dugaan child grooming dengan kepala dingin serta hati yang jernih.
Tegaskan Tidak Tinggal Diam di Masanya
Dalam unggahannya, Kak Seto menepis anggapan bahwa pihaknya membiarkan begitu saja laporan yang pernah disampaikan keluarga Aurelie di masa lalu.
Ia mengatakan, bahwa upaya telah dilakukan sesuai kapasitas dan tanggung jawab lembaga pada waktu itu.
“Pada masanya, kami telah berupaya semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan dan tanggung jawab kami saat itu,” tulis Kak Seto, dikutip Rabu (14/1/2026).
Pernyataan ini sekaligus menjadi respons atas narasi publik yang berkembang liar, seolah-olah lembaga perlindungan anak menutup mata terhadap situasi yang dialami Aurelie saat remaja.
Minta Isu Tidak Dijadikan Ajang Saling Menyerang
Kak Seto juga menyoroti cara publik merespons kasus ini. Ia mengingatkan agar peristiwa masa lalu tidak dijadikan ruang untuk saling menuduh, memfitnah, atau memelintir fakta demi kepentingan tertentu.
Menurutnya, isu sensitif seperti child grooming seharusnya dibahas dengan pendekatan empati, bukan amarah kolektif yang justru memperkeruh keadaan.
“Kami memahami bahwa setiap peristiwa menyisakan luka, proses, dan pembelajaran bagi semua pihak yang terlibat,” lanjut Kak Seto.
Seruan Bijak di Tengah Amarah Netizen
Di tengah derasnya arus cancel culture dan penghakiman publik, Kak Seto secara tersirat mengajak masyarakat untuk tidak menjadikan kasus ini sebagai panggung pengadilan sosial.
Ia menekankan pentingnya keadilan perspektif dan empati terhadap semua pihak, termasuk korban maupun mereka yang pernah terlibat dalam proses pendampingan.
“Mari kita bersikap lebih bijak, adil, dan berempati,” tegasnya.
Publik Masih Terbelah
Meski klarifikasi telah disampaikan, reaksi publik tetap terbelah. Sebagian menilai pernyataan Kak Seto sebagai langkah yang perlu untuk meluruskan narasi, sementara lainnya menganggap klarifikasi tersebut belum cukup menjawab kegelisahan masyarakat soal penanganan kasus anak di masa lalu.
Sorotan terhadap KPAI dan sistem perlindungan anak pun ikut menguat, menandakan bahwa isu ini telah bergeser dari sekadar gosip selebriti menjadi diskursus serius soal perlindungan anak di Indonesia.
Aurelie Belum Menanggapi Klarifikasi
Sementara itu, Aurelie Moeremans belum memberikan respons langsung terhadap klarifikasi Kak Seto. Fokus publik masih tertuju pada isi buku Broken Strings versi fisik yang mengungkap pengalaman traumatisnya, sekaligus memantik evaluasi kolektif terhadap peran orang dewasa dan institusi di sekitarnya pada masa itu.
(Dist)










