Dukun Penggandaan Uang kok Masih Dipercaya Orang Indo? Ini Penjelasan Psikolog UGM

Ilustrasi dukun penggandaan uang (Teropong Media ID)
Ilustrasi dukun penggandaan uang (Teropong Media ID)
-

Tidak ada video disisipkan.

BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Psikolog Sosial UGM, Prof Koentjoro, memberikan pandangannya terkait fenomena dukun penggandaan uang yang masih dipercayai masyarakat Indonesiai. Kasus penipuan berkedok dukun penggandaan uang terungkap baru-baru ini di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Jajaran Polres Sumedang berhasil mengungkap sebuah kasus penipuan dan penggelapan yang mengatasnamakan jasa dukun pengganda uang. Pelaku berinisial K alias AA (48), warga Kecamatan Rancakalong, berhasil diamankan setelah seorang korban berinisial YS (53), warga Sumedang Utara, melaporkan kejadian tersebut.

Kapolres Sumedang, AKBP Sandityo Mahardika, menjelaskan bahwa tersangka yang bekerja sebagai sopir mengaku sebagai dukun yang mampu melipatgandakan uang secara gaib.

Modus tersebut berhasil menipu korban hingga menyerahkan uang tunai sebesar Rp 2.660.000 pada Jumat, 25 April 2025, di kediaman tersangka di Dusun Cikondang, Desa Pamekaran.

“Tersangka berjanji uang korban akan menjadi dua kali lipat dalam satu minggu setelah melalui ritual penarikan uang gaib. Namun, korban tidak kunjung menerima hasil yang dijanjikan,” ungkap Kapolres, mengutip Tribratanews, Sabtu (23/8/2025).

Setelah merasa ditipu, YS melaporkan kejadian tersebut ke Polres Sumedang. Tim penyidik kemudian bergerak cepat dan berhasil menangkap tersangka di rumahnya.

Dari penggeledahan, polisi menyita sejumlah barang bukti berupa satu peti box hitam, 980 lembar uang mainan pecahan Rp 100.000, dan 100 lembar uang mainan pecahan Rp 50.000.

Uang palsu tersebut digunakan tersangka untuk meyakinkan korbannya bahwa ia memiliki kemampuan gaib menarik uang.

“Barang bukti ini membuktikan niat tersangka melakukan penipuan. Uang mainan dipakai untuk mengelabui korban seolah-olah ia punya kekuatan gaib,” tegas Kapolres.

Tersangka dijerat dengan Pasal 378 KUHP tentang Penipuan dan/atau Pasal 372 KUHP tentang Penggelapan, dengan ancaman hukuman hingga 4 tahun penjara. Saat ini, K alias AA ditahan di Mapolres Sumedang untuk proses hukum lebih lanjut.

BACA JUGA

Dukun Gadungan di Sumedang Bisa Gandakan Uang, Diciduk Polisi

3 Ayat Terakhir Surat Al Baqarah untuk Ruqyah Syar’iyah Anti Sihir

Fenomena Dukun Penggandaan Uang Menurut Psikolog

Psikolog Sosial UGM, Prof Koentjoro, menjelaskan, kepercayaan terhadap dukun dengan kemampuan luar biasa masih kuat di tengah masyarakat Indonesia karena cara berpikir yang cenderung materialistis.

“Dari perspektif korban, masyarakat kita konsep berpikirnya sangat materialistis,” jelas Koentjoro dalam laman resmi UGM.

Dia menambahkan, kemajuan teknologi dan media sosial turut memperparah kondisi ini, dengan banyaknya unggahan yang memamerkan kemewahan hidup atau flexing.

Hal itu memicu keinginan untuk memiliki simbol-simbol status serupa, seringkali dengan mencari jalan pintas, termasuk melalui jasa dukun.

Koentjoro menjelaskan bahwa telah terjadi pergeseran nilai dalam masyarakat. Jika sebelumnya relasi sosial dibangun atas dasar afiliasi dan persahabatan, kini lebih didorong oleh motif kekuasaan dan pengakuan status.

“Bagi orang berpengaruh, berbakat, maupun terdidik yang jadi korban, itu karena serakah. Mereka ingin diakui dan dihormati lewat simbol-simbol status sosial,” paparnya.

Guru Besar Fakultas Psikologi UGM itu menyebut dua faktor yang membuat masyarakat mudah percaya pada dukun:

Pertama, penggunaan hipnotis atau gendam;

Kedua, kemampuan pelaku dalam memengaruhi dan meyakinkan korbannya dengan iming-iming.

Dari sisi pelaku, Koentjoro menambahkan, tindak penipuan berkedok dukun dilakukan sebagai jalan pintas untuk mendapatkan uang.

“Agar tidak terus ditagih janji penggandaan uang, korban diajak ritual yang sebenarnya untuk menghabisi nyawa, dan mereka percaya itu bagian dari ritual,” tuturnya.

Untuk mencegah masyarakat terjebak penipuan serupa, Koentjoro menekankan pentingnya pendidikan dalam keluarga yang mengajarkan makna kebahagiaan sejati, bukan melalui simbol status sosial, melainkan dengan bersyukur kepada Tuhan.

“Perlu belajar sufisme untuk melawan materialisme. Pendidikan keluarga menjadi kunci untuk mengajarkan kehidupan yang penuh syukur,” pungkasnya.

(Aak)

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
OJK Jabar
Penipuan Investasi Mantan Pegawai Bank Mandiri Taspen di Purwokerto, OJK Minta Korban Segera Melapor
500 Musisi Meriahkan Bandung Kota Angklung Festival 2026
500 Musisi Meriahkan Bandung Kota Angklung Festival 2026
Pameran Persib Hadir di Braga, Suguhkan Identitas Bobotoh Melalui Karya Seni
Pameran Persib Hadir di Braga, Suguhkan Identitas Bobotoh Melalui Karya Seni
Dihadiri Bupati Bandung, KH Ubaidillah Ruhiat Lantik Wakil Ketua DPR RI Jadi Ketua Alumni Cipasung
Dihadiri Bupati Bandung, KH Ubaidillah Ruhiat Lantik Wakil Ketua DPR RI Jadi Ketua Alumni Cipasung
maroko brazil
Prediksi Skor Maroko vs Norwegia: Duel Dua Tim Kuda Hitam Piala Dunia 2026
Berita Lainnya

1

2

Tips Mengobati Luka Melepuh Akibat Gigitan Tomcat, Jangan Digaruk!

3

Sejumlah Ruko di Pasar Soreang Ambruk, Petugas Lakukan Evakuasi

4

Jadwal Adzan Magrib Lombok Hari Ini 17 Maret 2025

5

Brace Cristiano Ronaldo Warnai Kemenangan Al Nassr atas Al Gharafa di Liga Champions Asia
Headline
rupiah hari ini
Rupiah Diprediksi Tembus Rp19.000 Akhir Juni 2026, The Fed Jadi Sorotan!
Farhan Bandung Siap Jadi Kota Terdepan Implementasi AI Pelayanan Publik
Farhan: Bandung Siap Jadi Kota Terdepan Implementasi AI Pelayanan Publik
Darurat Sampah Tidak Disetujui, Pemkot Bandung Siapkan Solusi Mandiri
Darurat Sampah Tidak Disetujui, Pemkot Bandung Siapkan Solusi Mandiri
dadan
Geser Dadan Hindayana, Prabowo Tunjuk Naniek Deyang Jadi Kepala BGN yang Baru