BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Fabio Quartararo melontarkan penilaian jujur soal arah pengembangan Yamaha jelang MotoGP 2026. Di tengah rencana besar beralih ke mesin V4, pabrikan asal Iwata justru dinilai belum menunjukkan lompatan berarti pada motor yang digunakan sepanjang musim 2025.
MotoGP 2026 seharusnya menjadi titik balik bagi Yamaha setelah beberapa musim tertinggal dari para rival. Namun bagi Quartararo, apa yang ia rasakan di lintasan justru menunjukkan Yamaha masih berjalan di tempat, terutama pada sektor mesin.
Meski Yamaha mengklaim ada peningkatan tenaga pada mesin inline-4, Quartararo menilai progres tersebut terlalu kecil untuk memberi dampak nyata di persaingan papan atas.
“Selangkah demi selangkah kami memang meningkatkan tenaga mesin. Sayangnya, itu belum cukup,” ujar Quartararo, dikutip dari MotoGP, Selasa (6/1/2026).
Alih-alih menghadirkan lonjakan performa, Yamaha justru lebih banyak berkutat pada pengembangan elektronik. Fokus tersebut dinilai belum mampu menutup kelemahan mendasar Yamaha, khususnya dalam hal akselerasi dan top speed yang masih tertinggal dari Ducati dan Aprilia.
“Langkah terbesar kami ada di elektronik. Kami mencoba memahami bagaimana saya bisa lebih cepat beradaptasi dengan bantuan sistem elektronik,” jelas pebalap berjuluk El Diablo itu.
Baca Juga:
Alex Rins: Pengurangan Kapasitas Mesin Bukan Solusi Instan untuk Keselamatan MotoGP
Nada realistis Quartararo menggambarkan situasi Yamaha yang seperti terjebak di fase transisi. Pengembangan motor 2025 berjalan setengah hati karena perhatian tim mulai teralihkan ke proyek besar MotoGP 2026.
Kondisi ini membuat Quartararo seolah harus menerima kenyataan bahwa musim berjalan lebih difokuskan sebagai masa tunggu, bukan periode kebangkitan. Ia bahkan mengisyaratkan bahwa Yamaha saat ini sudah tidak lagi menjadi prioritas utama pengembangan.
“Saya rasa para insinyur kini lebih fokus ke motor 2026. Itu sebabnya peningkatan musim ini cukup minim,” ucapnya.
Meski mendukung rencana beralih ke mesin V4, Quartararo juga menyoroti risiko di balik keputusan tersebut. Ia tak menampik adanya potensi kehilangan karakter motor yang selama ini menjadi ciri khas Yamaha.
Peralihan ke V4 memang menawarkan harapan baru, tetapi bagi Quartararo, Yamaha tak bisa sekadar berharap pada masa depan tanpa solusi nyata di masa kini.
“Saya berharap ini semua demi alasan yang baik, agar kami punya motor yang benar-benar kompetitif musim depan,” tutup Quartararo.
Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa Yamaha kini berada di persimpangan jalan: bertahan dengan progres kecil yang stagnan, atau berani bertaruh besar pada proyek V4 demi mengakhiri periode jalan di tempat yang terlalu lama.









