BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Prototipe mesin V4 Yamaha kini menjadi pusat perhatian dunia MotoGP. Di balik proyek ambisius ini, tersimpan tekanan besar dari bintang utama mereka, Fabio Quartararo, yang menuntut hasil nyata, bukan sekadar janji. Jika motor baru itu gagal memenuhi ekspektasi, sang juara dunia 2021 siap mencari jalan keluar.
Setelah bertahun-tahun bertahan dengan konfigurasi inline-four pada YZR-M1, Yamaha akhirnya menyerah pada kenyataan bahwa dunia MotoGP telah berubah. Mesin V4 kini menjadi standar bagi motor tercepat di lintasan dari Ducati hingga KTM dan Aprilia. Yamaha pun memulai proyek revolusioner ini demi mengembalikan kejayaan yang hilang.
Namun, perjalanan awal tidak berjalan mulus. Pada tes tertutup di Misano bulan lalu, prototipe V4 Yamaha masih menunjukkan banyak kekurangan. Tenaga terasa kasar, stabilitas keluar tikungan belum konsisten, dan respons gas dianggap belum selevel dengan rival-rivalnya.
“Yamaha memang bekerja keras dengan proyek V4, tapi saya butuh motor yang bisa menang,” ujar Quartararo melansir Crash.net, Jumat (24/10/2025).
“Tujuan saya jelas: podium, kemenangan, dan kejuaraan. Jika saya tidak memiliki motor seperti itu, tentu saya akan pergi,” lnajutnya.
Quartararo sudah menunggu terlalu lama. Sejak gelar dunianya pada 2021, ia belum merasakan kemenangan lagi. Musim 2025 pun berjalan berat, dengan Yamaha tertinggal dalam hal akselerasi dan traksi dibanding Ducati Desmosedici maupun KTM RC16.
Pabrikan asal Iwata kini menaruh harapan besar pada pengujian berikutnya di Valencia (November) dan Sepang (Februari). Dua tes itu akan menjadi penentu apakah mesin V4 benar-benar mampu membawa Yamaha kembali ke papan atas.
“Saya pikir Valencia akan menjadi momen penting. Dalam waktu dua bulan, Anda tidak bisa mengubah motor sepenuhnya. Tapi di sana saya akan tahu apakah mereka di jalur yang benar,” ungkapnya.
Baca Juga:
Fabio Quartararo Diprediksi Tetap Setia pada Yamaha, Pilihan Seumur Hidup?
Di balik layar, tim teknis Yamaha disebut mengubah banyak hal fundamental. Mesin baru dikembangkan dengan sudut V sekitar 90 derajat, berfokus pada peningkatan torsi dan distribusi bobot yang lebih seimbang. Mereka juga bereksperimen dengan sasis karbon dan sistem aerodinamika baru hasil kerja sama dengan laboratorium Eropa.
Namun, semua itu akan sia-sia jika hasil di lintasan tak sesuai harapan. Dengan kontrak Quartararo yang berakhir pada 2026, Yamaha tak punya banyak waktu. Jika proyek V4 ini gagal, mereka berisiko kehilangan satu-satunya pembalap elit yang masih setia.
Di sisi lain, regulasi baru MotoGP 2027, termasuk pengurangan kapasitas mesin menjadi 850cc dan penggunaan ban Pirelli membuat setiap langkah pengembangan menjadi taruhan jangka panjang.
“Keputusan soal masa depan selalu penuh risiko. Yang saya lihat adalah siapa yang benar-benar punya motivasi untuk menang. Kadang, detail kecil menentukan segalanya,” katanya.
Kini, nasib Yamaha dan Quartararo saling terkait erat. Bagi Yamaha, proyek V4 bukan sekadar mesin baru tapi simbol perjuangan untuk bertahan di era baru MotoGP. Dan bagi Quartararo, ini mungkin kesempatan terakhir untuk menentukan apakah masa depannya masih berwarna biru Iwata, atau justru merah Ducati, oranye KTM, bahkan hitam Aprilia.
(Budis)











