JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Galang donasi yang dilakukan Ferry Irwandi untuk korban banjir dan longsor di Sumatera menarik perhatian Pengamat politik, Rocky Gerung setelah berhasil menghimpun dana Rp 10,3 miliar dalam 24 jam.
Donasi tersebut kemudian digunakan untuk menyalurkan bantuan logistik,Ferry Irwandi makanan, air bersih, dan kebutuhan mendesak ke sejumlah wilayah terdampak bencana di Aceh dan provinsi lainnya.
Rocky Gerung menilai keberhasilan galang dana swadaya ini sebagai sebuah “paradoks” bagi pemerintah. Menurut Rocky, jika warga dapat dengan mudah mengumpulkan miliaran rupiah secara cepat untuk korban bencana, maka hal itu menunjukkan bahwa pemerintahan dianggap gagal memenuhi tanggung jawab sosial dan kemanusiaan.
“Pemerintah kesulitan atau kewalahan mengumpulkan pajak untuk membiayai pembangunan,” kata Rocky.
“Tapi masyarakat bisa sukarela menyumbang miliaran rupiah dalam tempo singkat untuk bantuan korban bencana,” tambahnya.
Ia menyebut, menambahkan bahwa fenomena ini memunculkan pertanyaan besar tentang kepercayaan warga terhadap kemampuan negara menanggulangi bencana dan menjamin kesejahteraan masyarakat.
Baca Juga:
Ferry Irwandi Lihat Situasi di Aceh Tamiang Mengerikan, Warga Minum Air Banjir
Utang KUR Petani Aceh Dihapus! Prabowo Pastikan Perlindungan Korban Banjir
Sementara itu, Ferry Irwandi bersama tim relawan telah menyasar langsung lokasi terdampak di Pulau Sumatera, termasuk kawasan terpencil yang sulit dijangkau logistik.
Menurut data yang beredar, donasi tersebut telah digunakan untuk mendistribusikan bantuan pangan cepat saji, obat-obatan, air bersih, dan kebutuhan dasar lainnya. Ferry menyebut bahwa dana ini adalah hasil dorongan solidaritas warga sebagai bentuk tanggap darurat di saat pemerintah dianggap belum optimal.
Fenomena ini memicu wacana lebih luas tentang bagaimana bencana besar seharusnya ditangani: apakah mengandalkan sumbangan rakyat atau memastikan sistem tanggap nasional yang tangguh serta pemerataan bantuan.
Bagi Rocky, galang dana seperti ini menunjukkan bahwa warga sipil masih memercayai nilai kemanusiaan, namun sekaligus menjadi cermin bahwa negara harus mengevaluasi cara tanggap darurat dan distribusi bantuan.
(Dist)











