BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Penasihat Red Bull Racing, Helmut Marko, memberikan penilaian paling jujur sejauh ini mengenai peluang Max Verstappen mempertahankan gelar juara dunia Formula 1 musim 2025. Dengan hanya tiga seri tersisa, termasuk akhir pekan sprint di Qatar, selisih 49 poin dari pemuncak klasemen, Lando Norris, membuat Verstappen berada dalam situasi hampir mustahil.
Menurut Marko, peluang itu hanya bisa terbuka jika sesuatu terjadi pada pebalap McLaren. Bukan sekadar Verstappen tampil sempurna, namun juga Norris harus tersandung.
“Selisih 49 poin dengan tiga balapan dan satu sprint berarti sesuatu harus terjadi pada Lando. Jika tidak, kami tidak punya kesempatan. Singkatnya, itu berarti ia harus mengalami masalah besar atau tidak bisa menyelesaikan lomba,” kata Marko, melansir Formula1, Sabtu (15/11/2025).
Meski peluang sangat berat, Marko tetap menilai Red Bull layak mengambil hal positif dari perkembangan mobil sepanjang musim. Setelah awal tahun yang tidak stabil, kecepatan RB21 perlahan meningkat, menunjukkan perubahan internal yang mulai membuahkan hasil, terutama dengan peran strategis Laurent Mekies dalam struktur operasional tim.
Transformasi itu membuat Verstappen sempat kembali mengancam perebutan gelar, termasuk penampilan sensasional di Brasil ketika ia mampu naik ke podium tiga meski start dari pit lane.
Namun dominasi McLaren di paruh kedua musim membuat langkah Verstappen tetap berat. Bahkan jika Norris melakukan kesalahan, ancaman lain masih datang dari rekan setimnya, Oscar Piastri, yang unggul 25 poin atas Verstappen.
Baca Juga:
Max Verstappen Akui Eranya Mulai Redup, Peluang Juara Menjauh
Menjelang penutupan musim di Las Vegas, Qatar, dan Abu Dhabi, Marko menilai sulit memprediksi siapa yang akan tampil dominan. Era di mana karakteristik sirkuit memberikan keuntungan besar pada satu mobil tertentu kini sudah hilang.
“Menilai kekuatan mobil di tiga trek terakhir tidak mudah. Ferrari dan Mercedes punya performa naik turun, dan jika kami menemukan setelan yang tepat, kami bisa bertarung dengan McLaren,” ujar Marko.
Secara teori, Las Vegas diperkirakan lebih ramah untuk Red Bull dengan lintasan lurus panjang dan sektor berkecepatan tinggi. Sebaliknya, Qatar dan Abu Dhabi justru lebih cocok untuk kekuatan McLaren yang unggul di tikungan medium-speed.
Kendati demikian, Marko menegaskan bahwa prediksi berbasis karakteristik sirkuit kini tidak lagi sepenting dulu. Variabel performa mobil sepanjang musim terasa terlalu dinamis.
(Budis)








