BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Lonjakan penggunaan kecerdasan buatan generatif tidak hanya membawa inovasi, tetapi juga membuka babak baru kejahatan digital berbasis manipulasi identitas. Modus seperti deepfake, rekayasa wajah, dan identitas sintetis kini menjadi ancaman nyata bagi sistem keuangan, layanan publik, hingga ekosistem ekonomi digital.
Serangan tidak lagi sekadar pemalsuan dokumen, tetapi masuk ke level biometrik: wajah, suara, dan video yang direkayasa AI. Dalam konteks ini, sistem verifikasi konvensional dinilai semakin rentan karena tidak dirancang untuk menghadapi serangan berbasis AI.
Head of AI Verihubs, Bram, menegaskan bahwa tantangan terbesar hari ini bukan lagi soal kecepatan verifikasi, tetapi ketahanan sistem terhadap manipulasi identitas digital.
“Di tengah meningkatnya risiko fraud berbasis AI, kemampuan mendeteksi presentation attack menjadi elemen penting dalam menjaga integritas proses verifikasi identitas digital,” ujarnya dalam keterangan pers, Sabtu (21/2/2026).
Baca Juga:
Mabar Mobile Legends: Budaya Pop Generasi Digital
Sebagai respons terhadap eskalasi ancaman tersebut, Verihubs memperkuat fondasi keamanannya melalui perolehan sertifikasi ISO/IEC 27001:2022 dan ISO/IEC 30107 untuk teknologi liveness detection yang dikembangkan secara internal.
Sertifikasi ini bukan sekadar formalitas standar internasional, tetapi menjadi indikator bahwa sistem biometrik kini dituntut mampu membedakan manusia asli dan identitas buatan AI, mulai dari video rekaman, topeng 3D, hingga wajah sintetis hasil rekayasa algoritma.
Tekanan ini semakin terasa di sektor perbankan, fintech, dan layanan publik digital. Proses know-your-customer (KYC) dan digital onboarding kini bukan hanya soal kepatuhan regulasi, tetapi soal perlindungan sistem nasional dari infiltrasi identitas palsu yang berpotensi digunakan untuk pencucian uang, pendanaan ilegal, hingga kejahatan siber lintas negara.
Di tengah percepatan transformasi digital, biometrik berbasis AI bukan lagi sekadar teknologi pendukung layanan, tetapi telah menjadi infrastruktur keamanan strategis. Tanpa sistem deteksi manipulasi yang kuat, digitalisasi justru berisiko menciptakan celah baru bagi kejahatan terorganisir berbasis AI.
Dengan semakin canggihnya teknologi deepfake, pertarungan kini bukan lagi antara manusia dan mesin, tetapi antara AI untuk keamanan melawan AI untuk kejahatan dan masa depan kepercayaan digital sangat ditentukan oleh siapa yang lebih siap secara sistemik.











