BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Kembali menghadirkan inovasi baru. Kali ini, BRIN mengolah tempe koro pedang menjadi daging analog yang disebut mirip dengan daging asli, terutama dari segi tekstur.
BRIN mengembangkan daging analog berbahan mycoprotein dari tempe koro pedang sebagai alternatif sumber protein yang bernilai gizi tinggi. Daging ini menjadi alternatif mengingat tren konsumsi daging analog atau produk alternatif pengganti daging hewani, semakin positif seiring dengan meningkatnya kesadaran akan kesehatan.
Daging Analog ini dinilai lebih sehat karena tidak mengandung kolesterol dan rendah lemak jenuh. Selain itu, juga lebih ramah lingkungan karena jejak karbonnya lebih rendah. Dari sisi lain, daging analog ini juga dianggap lebih etis dan inklusif karena bisa menjawab isu kesejahteraan hewan, prinsip agama, dan berbagai gaya hidup, termasuk diet vegan yang sekarang mulai banyak dijalani.
Potensi Koro pedang
Koro pedang (Canavalla ensiformis) bentuknya lebih lonjong Panjang seperti pedang. Warnanya biasanya putih atau krem. Selain itu, memiliki kandungan protein sekitar 27,81% dan berpotensi menjadi bahan baku sumber protein alternatif dari pangan local.
Baca Juga:
BRIN Analisis Benda Bercahaya yang Diduga UFO di Depok
Inovasi pangan
Dalam proses pengolahannya, koro Pedang difermentasi menjadi tempe koro, kemudian diformulasikan dengan tepung gluten dan mocaf, serta diproses menggunakan ekstruder ulir ganda untuk menghasilkan tekstur berserat menyerupai daging. Bahkan, Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah bahwa mikoprotein dari jamur Fusarium venenatum sangat potensial digunakan sebagai bahan daging analog. Keunikan dari formulasi daging analog berbahan baku kacang koro ini sudah diakui secara legal dengan No Paten P00202504276.
“Melalui fermentasi dan teknologi ekstrusi, koro pedang dapat diolah menjadi daging analog bernilai gizi tinggi dan lebih ramah lingkungan. Inovasi ini berpotensi menjadi alternatif sumber protein masa depan di Indonesia,” ujar Prof. R. Haryo Bimo Setiarto, Periset Pusat Riset Mikrobiologi Terapan, pada akun Instagram resmi @brin_indonesia, Jum’at (10/4/2026).
Mendukung Pangan Berkelanjutan
Daging analog berbasis mycoprotein ini memiliki protein nabati tinggi, bebas kolesterol, dan rendah lemak jenuh, sehingga berpotensi mendukung diversifikasi pangan dan pengembangan sumber protein berkelanjutan di Indonesia.
Dari berbagai keunggulan tersebut, BRIN optimistis bahwa daging analog berbahan baku lokal ini dapat menjadi salah satu solusi ketahanan pangan nasional ke depan. Apalagi, produk ini telah terbukti paten dan didukung langsung oleh riset dari para ahli di Pusat Riset Mikrobiologi Terapan.
Kehadiran daging analog ini dinilai cocok, seiring semakin banyaknya masyarakat yang mulai menjalani diet vegan. Tidak hanya itu, produk ini juga bisa menjadi pilihan bagi mereka yang ingin mengurangi konsumsi daging hewani tanpa harus kehilangan asupan protein. Dengan bahan baku nabati, daging analog ini diharapkan dapat menjawab kebutuhan gaya hidup yang lebih sehat sekaligus mendukung upaya pelestarian lingkungan.
(Magang Unpas / Putri Diva Cahya Satriani)











