JAKARTA, TEROPONGEMDIA.ID — Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai ekspor mineral dan batubara (minerba) Indonesia tidak terdampak langsung oleh penutupan Selat Hormuz.
Seperti diketahui, Jalur pelayaran tersebut ditutup oleh Iran menyusul eskalasi konflik dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Ketua Komite Mineral dan Batubara Bidang ESDM Apindo, Hendra Sinadia, mengatakan jalur Selat Hormuz lebih berpengaruh terhadap aktivitas ekspor dan impor minyak dan gas bumi (migas), bukan komoditas minerba nonmigas.
“Kalau ekspor lebih ke migas ya ke Selat Hormuz kan banyak,” ujar Hendra melansir Liputan6, Selasa (3/3/2026).
Ekspor Batubara Dominan ke Asia Timur
Menurut Hendra, pasar utama ekspor batubara Indonesia berada di kawasan Asia Timur. Dengan demikian, rute pengiriman komoditas tersebut tidak melalui jalur Selat Hormuz.
Ia menambahkan, untuk komoditas nikel, dampaknya juga belum terlihat secara langsung. Jika terjadi penyesuaian jalur distribusi global, pengiriman masih dimungkinkan melalui rute alternatif, misalnya mengitari Afrika.
“Kalau nikel kita belum tahu persis, mereka mungkin bisa lewat Afrika, tapi secara langsung belum terlihat dampaknya,” ujarnya.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa secara geografis dan jalur logistik, ketergantungan ekspor minerba Indonesia terhadap Selat Hormuz relatif kecil dibandingkan sektor migas.
Dampak Tidak Langsung dari Tekanan Global
Meski demikian, Hendra mengakui potensi dampak tidak langsung tetap ada. Eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel berisiko menekan stabilitas keuangan global.
Ketegangan geopolitik biasanya memicu volatilitas pasar keuangan, lonjakan harga energi, serta ketidakpastian perdagangan internasional. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi permintaan komoditas dan pembiayaan perdagangan.
“Secara tidak langsung pasti akan berdampak karena kondisi financial keuangan dunia juga akan makin tertekan,” kata Hendra.
Baca Juga:
Antisipasi Penutupan Selat Hormuz, Pertamina Siapkan Rute Alternatif
Airlangga: Perang AS–Iran Berpotensi Dongkrak Harga BBM di Indonesia
Sebelumnya, Menteri Perdagangan Budi Santoso mengingatkan potensi kenaikan harga minyak mentah akibat terganggunya jalur perdagangan internasional di Selat Hormuz.
Menurut Budi, hambatan distribusi energi global dapat mendorong kenaikan biaya logistik dan harga bahan baku industri.
“Ya pasti nanti minyak atau bahan baku lainnya jadi naik,” ujarnya di Kantor Kementerian Perdagangan, Senin (2/3/2026).
Kenaikan harga energi berpotensi memicu efek berantai terhadap sektor manufaktur dan perdagangan. Meski ekspor minerba dinilai relatif aman secara langsung, dinamika geopolitik global tetap menjadi faktor risiko yang perlu diantisipasi pelaku usaha dan pemerintah.
(Dist)











