BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Harga minyak mentah dunia melonjak tajam hingga menembus level US$100 per barel pada Minggu (8/3) di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Laporan CNN menyebutkan lonjakan harga tersebut dipicu kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah jika konflik berkepanjangan.
Minyak mentah acuan Brent crude oil tercatat melonjak sekitar 12,63 persen hingga mencapai US$104 per barel. Sementara harga minyak mentah acuan West Texas Intermediate (WTI) dari Amerika Serikat naik sekitar 14,7 persen.
Kenaikan tajam harga energi tersebut turut mengguncang pasar keuangan global. Indeks saham Dow Jones Industrial Average tercatat turun sekitar 851,6 poin atau hampir 2 persen. Sementara itu, S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing melemah 1,73 persen dan 1,65 persen.
Penurunan tersebut dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi guncangan pada sektor energi yang berisiko meningkatkan tekanan inflasi di Amerika Serikat.
Lonjakan harga minyak dan gas juga dinilai dapat memperburuk biaya hidup masyarakat di Amerika Serikat. Kondisi ini berpotensi menambah tekanan politik terhadap Presiden Donald Trump dan Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu atau Midterm Elections Amerika Serikat tahun ini.
Meski demikian, pemerintahan Trump berupaya meredakan kekhawatiran publik. Dalam wawancara dengan ABC News, Trump menyebut lonjakan harga bensin sebagai “gangguan kecil” dan menilai kondisi tersebut sudah diperkirakan sebelumnya.
Baca Juga:
Imbas Konflik Iran-AS, Wamen HAM Tertahan di Bandara Doha
Sementara itu, dalam program “State of the Union” di CNN, Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright menyatakan pemerintah tidak memiliki rencana untuk menyerang industri minyak maupun infrastruktur energi Iran.
Di sisi lain, seorang pejabat senior Iran memperingatkan konflik telah memasuki fase baru setelah serangan Israel. Iran bahkan memberi sinyal kemungkinan menyerang infrastruktur energi di kawasan tersebut dalam beberapa hari ke depan.
Pejabat tersebut juga menyebut Iran dapat mengendalikan lalu lintas energi di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.
Ancaman terhadap jalur distribusi minyak ini membuat kekhawatiran pasar semakin meningkat, karena gangguan di Selat Hormuz berpotensi menghentikan arus pengiriman minyak global.
Sementara itu di Indonesia, pemerintah telah melakukan simulasi dampak lonjakan harga minyak terhadap fiskal negara. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut pemerintah melakukan stress test terhadap Kementerian Keuangan Republik Indonesia terkait dampak kenaikan harga minyak terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Berdasarkan simulasi tersebut, harga minyak dunia berpotensi menekan fiskal apabila rata-rata mencapai US$92 per barel sepanjang tahun, lebih tinggi dari asumsi harga minyak dalam APBN yang dipatok sekitar US$60 per barel.
Dalam skenario tersebut, defisit anggaran diperkirakan dapat melebar hingga sekitar 3,6 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).











