BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Pembalap Honda Racing, Joan Mir, melontarkan komentar menarik usai balapan penuh insiden di MotoGP Indonesia 2025. Ia menyebut Sirkuit Mandalika sebagai lintasan yang “angker”, setelah menyaksikan banyaknya pembalap top berguguran di tengah panasnya balapan di Lombok, Minggu (5/10/2025).
Dalam balapan utama yang berlangsung menegangkan, sederet nama besar seperti Marco Bezzecchi, Marc Marquez, hingga beberapa rider lain harus terjatuh dan gagal finis. Bagi Mir, hal itu bukan sekadar kebetulan, melainkan bukti bahwa Mandalika menyimpan aura yang sulit dijelaskan.
“Lintasan ini aneh, ban yang dibawa ke sini lebih keras. Sebenarnya, trek ini seperti mimpi buruk bagi semua orang,” ujar Mir, melansir motogp.com, Selasa (7/10/2025).
“Kalian bisa lihat sendiri, banyak pembalap di depan yang biasanya tidak berada di posisi teratas. Itu terjadi karena kondisi trek benar-benar spesial dan tidak bisa ditebak,” lanjutnya.
Menurut Mir, karakter Sirkuit Mandalika berbeda dari trek mana pun di kalender MotoGP. Aspal yang cepat berubah grip-nya, angin pesisir yang membawa debu halus, hingga temperatur tinggi yang membuat ban cepat panas, membuat para pembalap seperti “berjudi” di setiap tikungan.
“Balapan ini terasa sangat lambat dari segi ritme, karena semua orang mencoba bertahan hidup di lintasan,” tambah Mir.
“Tidak ada yang benar-benar bisa tampil maksimal, kecuali Fermín (Aldeguer) yang menjalani balapan luar biasa. Hari ini, siapa pun bisa naik podium atau justru jatuh. Saya belum pernah merasakan balapan seaneh ini,” ungkapnya.
Baca Juga:
Tak Bisa Dianggap Remeh, Fermin Aldeguer Bikin Rider Senior MotoGP Ketar-Ketir!
Sejak pertama kali masuk kalender MotoGP pada 2022, Mandalika memang punya reputasi tersendiri di kalangan rider. Beberapa menyebutnya indah dan eksotis, tapi tak sedikit yang menganggap trek di tepi pantai selatan Lombok itu sebagai “sirkuit angker”.
Aura mistis itu bukan tanpa alasan. Hampir setiap tahun, ada saja pembalap top yang terjatuh di tikungan-tikungan Mandalika, entah karena kehilangan grip, terjebak dalam turbulensi angin, atau salah membaca kondisi aspal yang berubah seiring suhu siang.
Tak heran jika beberapa kru paddock bahkan berbisik bahwa Mandalika punya “jiwa” sendiri, lintasan yang menuntut respek, bukan hanya kecepatan.
Dengan reputasinya yang kian menakutkan, GP Indonesia kembali membuktikan bahwa Mandalika bukan sekadar sirkuit wisata, melainkan arena ujian mental dan nyali bagi para penunggang kuda besi tercepat di dunia.
(Budis)










