BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Tanpa banyak keraguan, Amanda Anisimova menjadi salah satu wajah paling dominan dan inspiratif di WTA musim 2025. Bukan hanya karena dua gelar WTA 1000 yang ia raih di Doha dan Beijing, atau keberhasilannya melaju ke dua final Grand Slam beruntun di Wimbledon dan US Open. Lebih dari itu, musim ini membuktikan bahwa petenis berusia 24 tahun tersebut telah melewati sebuah transformasi, personal dan profesional yang menempatkannya pada level tertinggi kariernya.
Perjalanan Anisimova tidak sekadar deretan kemenangan. Ia adalah gambaran seorang atlet yang bangkit dari titik terendah. Pada 2022, ia sempat menarik diri dari dunia tenis setelah dilanda cedera, penurunan performa, hingga masalah kesehatan mental yang memburuk. Kariernya nyaris terhenti.
Ketika kembali pada 2024, ia bahkan berada di luar peringkat 400 dunia. Namun, langkah demi langkah, ia membangun ulang fondasi kariernya. Momentum pertama muncul ketika ia mencapai final WTA 1000 Kanada pada 2024, mengangkatnya kembali ke jajaran 40 besar.
Kebangkitan penuh baru benar-benar terlihat pada musim 2025. Gelar di Doha membuka jalan bagi penampilan konsisten sepanjang tahun. Puncaknya datang di Wimbledon ketika ia memecahkan dominasi Aryna Sabalenka di semifinal. Meski kalah dari Iga Swiatek di final, performanya menjadi peringatan bahwa ia telah kembali sebagai kekuatan besar.
Baca Juga:
Aryna Sabalenka Tumbangkan Cori Gauff, Lolos ke Semifinal WTA Finals 2025
Dua bulan kemudian di US Open, Anisimova mengukir cerita baru. Di hadapan publik AS, ia menyingkirkan Swiatek dalam perjalanan menuju final. Meski Sabalenka kembali menjadi batu sandungan, Anisimova menutup musim sebagai petenis peringkat 4 dunia, sebuah pencapaian yang terasa mustahil tiga tahun sebelumnya.
“Saya suka US Open, energinya tidak tertandingi. Itu adalah pengalaman yang luar biasa,” ucapnya.
Dalam wawancaranya bersama ABC News, ia mengungkapkan dimensi lain dari kebangkitan itu, ketenangan batin.
“Beberapa musim terakhir ini sungguh istimewa. Saya mengambil jeda, lalu saya merasa memulai kembali karier saya,” ujarnya.
“Saya berkembang menjadi diri saya yang sekarang, lebih bebas, lebih autentik. Jeda itu memberi saya ruang untuk kembali sebagai diri saya yang sebenarnya,” tukasnya.
(Budis)










