BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Terobosan teknologi kembali lahir dari lingkungan kampus. Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karya Inovatif (PKM-KI) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menciptakan alat produksi telur asin modern yang mampu memangkas waktu pengolahan secara signifikan, dari hitungan hari menjadi hanya beberapa jam.
Alat inovatif tersebut diberi nama Osmotic Manipulation and Near Infrared Controlled (Osmoinc). Kehadirannya menjawab persoalan klasik yang selama ini dihadapi pelaku UMKM telur asin, yakni lamanya proses produksi serta kualitas rasa yang kerap tidak seragam.
Ketua tim pengembang, Achmad Mahendra, menjelaskan bahwa metode tradisional berbasis tanah liat dan garam membutuhkan waktu 10 hingga 14 hari, sehingga kurang efisien untuk memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat.
“Proses selama 10 sampai 14 hari bukan waktu yang singkat, terutama jika UMKM ingin masuk ke pasar ekspor,” ujar Mahendra, mahasiswa Departemen Teknik Kimia Industri ITS, dalam siaran pers yang dikutip Kamis (1/1/2025).
Sebagai solusi, Osmoinc mengombinasikan manipulasi tekanan osmosis dengan sensor Near Infrared (NIR). Teknologi ini memungkinkan penetrasi garam ke dalam telur berlangsung lebih optimal sekaligus memantau tingkat kemasiran tanpa merusak produk.
Secara teknis, alat berukuran 53,4 x 56,3 x 50,2 cm³ ini mampu memproses hingga 150 butir telur asin hanya dalam waktu lima jam untuk sekali produksi. Osmoinc menggunakan daya listrik sebesar 1.650 watt dan dirancang dari material food grade seperti galvanis dan SS316.
Tahapan produksinya meliputi perendaman telur dalam larutan asam asetat 15 persen selama lima menit, pembilasan, perebusan dalam larutan NaCl 30 persen pada suhu 70 derajat Celsius selama empat jam, hingga pengecekan akhir kemasiran dengan sensor NIR.
Mahendra menambahkan, keunggulan Osmoinc tak hanya terletak pada kecepatan produksi, tetapi juga pada aspek higienitas dan konsistensi kualitas. Telur asin yang dihasilkan memiliki tekstur masir yang merata dan daya simpan lebih lama karena pertumbuhan mikroba dapat ditekan.
“Inovasi ini kami harapkan bisa membantu UMKM naik kelas, memenuhi standar ekspor, sekaligus berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals,” jelas Mahendra.
Pengembangan Osmoinc sejalan dengan target SDGs, khususnya poin ke-2 tentang Tanpa Kelaparan, ke-8 terkait Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta ke-9 mengenai Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Melalui inovasi ini, ITS kembali menegaskan peran kampus sebagai penggerak solusi nyata bagi kebutuhan industri dan masyarakat.











