BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Pagi di Desa Tamansari selalu dimulai dengan udara dingin yang lembut menusuk kulit. Kabut tipis kerap menggantung di antara hamparan sawah dan perbukitan hijau, seolah memberi jeda sebelum aktivitas desa benar-benar hidup.
Dari kejauhan, Gunung Ijen berdiri tenang, menjadi penanda bahwa desa ini berada di jalur penting perjalanan wisata Banyuwangi, bukan sekadar tempat singgah, melainkan ruang hidup yang menyimpan cerita alam, budaya, dan kerja keras warganya.
Terletak di Kecamatan Licin, sekitar 17–20 kilometer dari Kawah Ijen, Desa Wisata Tamansari kerap menjadi persinggahan alami bagi wisatawan. Sebagian datang untuk beristirahat sebelum mendaki kawah legendaris itu, sebagian lagi memilih tinggal lebih lama, menikmati ritme desa yang bergerak pelan namun sarat makna.
Jalan desa yang membelah persawahan, aroma kopi robusta yang disangrai warga, serta senyum ramah tuan rumah homestay menjadi pengalaman pertama yang menyambut setiap tamu.
Di tengah lanskap persawahan itulah Taman Gandrung Terakota berdiri memikat. Seribu patung penari gandrung dari tembikar tersusun mengelilingi area terbuka, menyatu dengan sawah, bukit hijau, dan langit Banyuwangi yang luas. Patung-patung itu tidak berdiri kaku; sebaliknya, mereka seolah menari mengikuti hembusan angin desa.
Di sinilah wisatawan berhenti sejenak, berjalan perlahan, memotret siluet patung saat senja, atau duduk diam menikmati pertunjukan alam yang berpadu dengan seni. Gandrung, tarian yang menjadi identitas Banyuwangi tak lagi sekadar pertunjukan, melainkan hadir sebagai ruh yang hidup di ruang terbuka desa.
Tak jauh dari sana, gemericik air Sendang Seruni menawarkan suasana berbeda. Mata air jernih ini tersembunyi di antara pepohonan dan hamparan hijau, dikelilingi tanaman seruni dan hutan pinus. Airnya dingin, menyegarkan, dan menjadi pelepas lelah yang sempurna setelah perjalanan panjang atau pendakian ke Ijen. Di pagi atau sore hari, wisatawan kerap duduk di tepi sendang, merendam kaki, mendengarkan alam, dan membiarkan waktu berjalan lebih lambat dari biasanya.
Baca Juga:
Pemuteran Bali Masuk Daftar 52 Desa Wisata Terbaik Dunia 2025 Versi PBB
Kehidupan Desa Tamansari juga tak lepas dari cerita para penambang belerang. Jejak aktivitas mereka terlihat di Kampung Penambang, tempat wisatawan bisa berkenalan langsung dengan para pekerja yang setiap hari naik-turun Kawah Ijen.
Di sela cerita tentang belerang yang kini menjadi bahan produk kecantikan hingga ke mancanegara, terselip kisah keteguhan hidup dan kebanggaan akan tanah kelahiran. Beberapa rumah warga pun dibuka sebagai homestay, menjadikan interaksi antara tamu dan tuan rumah terasa hangat dan personal.
Saat malam tiba, desa tak benar-benar sunyi. Lampu-lampu homestay menyala temaram, suara obrolan wisatawan berpadu dengan aktivitas dapur warga yang menyiapkan kopi atau hidangan khas Banyuwangi.
Di pagi hari berikutnya, wisatawan bisa menikmati kopi robusta lokal atau beras merah organik hasil olahan UMKM desa, produk sederhana yang merekam hubungan panjang warga dengan alam.
Desa Wisata Tamansari bukanlah destinasi yang memamerkan kemegahan berlebihan. Daya tariknya justru terletak pada kesederhanaan: seni yang tumbuh dari tanah, alam yang dirawat bersama, serta kehidupan desa yang terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar dan merasakan.
Di kaki Kawah Ijen, Tamansari menghadirkan pengalaman wisata yang bukan sekadar perjalanan, melainkan perjumpaan dengan alam, budaya, dan manusia yang menjaganya.




