JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Gedung Kesenian Jakarta, pada Selasa (25/11/2025) malam, terasa seperti ruang di mana waktu melambat. Panggung gelap, lampu menetes perlahan, dan udara seakan menunggu sesuatu pecah. Dari kesunyian itulah “Monoplay Melati Pertiwi” muncul—sebuah pementasan monolog yang menghadirkan enam pahlawan perempuan Indonesia melalui tubuh, suara, dan ingatan kolektif.
Dibentuk oleh sutradara Wawan Sofwan dan diproduksi PT Keana Production di bawah arahan produser Marcella Zalianty, pertunjukan ini bukan sekadar teater. Ia bekerja seperti ritual yang menghidupkan kembali suara perempuan yang pernah menorehkan arah sejarah nusantara.
Marcella sendiri menyebut karya ini sebagai cara merawat empati dan kesadaran.
“Seni punya daya untuk menyalakan kembali nilai yang perlahan meredup,” ujarnya. Dalam ruang gelap GKJ, kalimat itu terasa bukan sekadar wacana, melainkan dorongan emosional bagi pertunjukan yang mengalir seperti arus panjang perjalanan bangsa.
Ruang Kosong Dipenuhi Jejak
Wawan memilih pendekatan minimalis lewat platform melingkar yang ditinggikan, cahaya yang bekerja seperti detak, dan musik yang hanya muncul sebagai bisikan. Ruang kosong itulah yang menjadi kanvas utama setiap aktor menorehkan lapisan-lapisan emosi tanpa harus bersandar pada properti berlebih.
Konsep ini membuat monolog menjadi pusat gravitasi. Penonton mengikuti napas, jeda, dan gerak terkecil para pemain. Seperti membaca puisi, tapi berdetak secara visual.
Isyana Sarasvati menjadi penghubung antarbagian, membawa penonton dari satu jejak sejarah ke jejak berikutnya. Hadirnya ia bukan sebagai pengatur ritme, melainkan alur yang mengalir lembut, mengantar tiap tokoh dengan nuansa musikal yang khas.
Baca Juga:
Lukisan Frida Kahlo Laku Rp913 Miliar, Karya Seniman Perempuan Termahal Sepanjang Masa
Enam Tokoh, Enam Dunia
Pertunjukan dibuka dengan kehadiran Ratu Kalinyamat. Hana Malasan memainkannya dengan tubuh yang tegas dan suara yang tajam—seperti kapal perang yang menembus badai. Ia menyampaikan lautan sebagai medan batin, penuh kemarahan sekaligus keteguhan.
Laksamana Keumalahayati – Marcella Zalianty
Marcella menghadirkan Malahayati dengan kepemimpinan yang senyap namun kokoh. Geraknya terukur, tetapi setiap kata membentuk bobot sejarah. Ada duka, ada strategi, ada perenungan seorang perempuan yang memimpin pasukan Inong Bale dari titik rapuh.
Nyi Ageng Serang – Maudy Koesnaedi
Maudy tampil seperti kabut pagi. Ritmenya lambat, memberi ruang hening yang meresap ke kursi penonton. Nyi Ageng Serang menjadi sosok yang menjaga tanah, menjaga martabat, menjaga kemarahan yang tidak perlu dirayakan—cukup dijalani.
Rasuna Said – Tika Bravani
Tika membawakan Rasuna Said dengan kekuatan kata. Monolognya terasa seperti orasi yang tidak lagi membutuhkan podium. Kata menjadi senjata, logika menjadi palu, dan suara menjadi gelombang yang mengguncang batas ruang.
Martha Christina Tiahahu – Glory Hillary
Glory hadir sebagai ledakan energi. Geraknya lincah, suaranya tajam, tubuhnya seperti gelombang yang tak mau diam. Ia membawa semangat remaja yang menolak tunduk—berani, rapuh, dan tetap berbinar.
SK Trimurti – Isyana Sarasvati
Sebagai penutup, Isyana menghadirkan SK Trimurti dengan nada personal. Ada intimacy yang muncul dari cara ia bercerita, seperti seseorang yang sedang mengajak pembaca masuk ke ruang kecil tempat sejarah pernah ditulis dengan tangan sendiri.
Persiapan pertunjukan ini berlangsung singkat—“terasa buru-buru,” kata Marcella. Namun, justru tekanan waktu itu memunculkan intensitas yang tidak dibuat-buat.
Hana mengaku bahwa teater adalah medan baru, sementara Isyana membawa kedekatan budaya sebagai kunci memahami SK Trimurti. Tika dan Glory menemukan pijakan lewat dialek dan darah—Minang bagi Rasuna Said, Ambon bagi Tiahahu—memberi warna lokal yang autentik.
Setiap pemeran menggunakan dialek daerah pahlawan masing-masing, membuat pertunjukan ini seperti peta bunyi sejarah Indonesia yang terhampar di atas satu panggung.
“Monoplay Melati Pertiwi” tidak menawarkan visual megah. Ia memilih jalan sunyi, dan dari sunyi itulah getaran yang paling jujur muncul. Pertunjukan ini bekerja seperti cahaya kecil yang menuntun penonton untuk menatap masa lalu dengan mata kini.
Dalam ruang teater yang temaram, enam tokoh perempuan itu tidak sekadar dikenang. Mereka hadir, bernapas, bersuara, dan kembali mengajarkan bahwa sejarah bukan dan tidak pernah selesai.
(Dist)











