BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Pada Januari 2026, Perbankan Jawa Barat menunjukkan pertumbuhan secara year on year untuk Aset, DPK dan Kredit masing-masing sebesar 5,27%, 6,78% dan 2,57%. Rasio NPL gross tergolong cukup tinggi yakni sebesar 3,39% dengan rasio LDR mencapai 138,65%.
“Per Januari 2026, penyaluran kredit perbankan berdasarkan di Jawa Barat mencapai Rp1.047 Triliun, tumbuh 2,50% YoY. Pertumbuhan kredit tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan kredit nasional sebesar 9,85% YoY,” ujar Kepala Kantor OJK Provinsi Jawa Barat Darwisman, Rabu (1/4/2026).
Selain itu, pertumbuhan kredit di Jawa Barat tersebut lebih rendah daripada DKI Jakarta (19,81% YoY), Kalimantan Timur (6,26% YoY), dan Sumatera Utara (4,85% YoY).
Rasio NPL gross perbankan di Jabar sebesar 3,42%, memburuk dibandingkan posisi Januari 2025 sebesar 3,08%.
Berdasarkan sektor ekonomi, penyaluran kredit (berdasarkan lokasi proyek bukan bank) terbesar disalurkan ke Rumah Tangga sebesar Rp436,08 Triliun (tumbuh 5,30% YoY) dan Industri Pengolahan sebesar Rp168,63Triliun (tumbuh sebesar 6,91% YoY).
Perlambatan penyaluran kredit disebabkan oleh penurunan kredit yang cukup signifikan pada sejumlah sektor, yaitu sektor Perdagangan Besar dan Eceran (Rp819 miliar) dan Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (Rp3,76 triliun) karena adanya kenaikan risiko kredit pada sektor-sektor unggulan tersebut.
Namun demikian, terdapat beberapa sektor yang membukukan pertumbuhan kredit dengan risiko tergolong rendah a.l.Konstruksi tumbuh 3,53% YoY dengan NPL gross sebesar 3,68%, Bukan Lapangan Usaha Lainnya tumbuh 6,22% dengan NPL gross sebesar 4,17%, dan Real Estate tumbuh 18,53% YoY dengan NPL gross 1,09%.
Mayoritas fungsi intermediasi bank (penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) dan penyaluran kredit/ pembiayaan) berada di 6 Kabupaten/ Kota di Jawa Barat yakni Kota Bandung, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Kota Depok, Kab. Bogor, dan Kabupaten Karawang. Sementara itu, rasio NPL gross tertinggi berada di Kabupaten Cianjur, Kota Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, Kab. Tasikmalaya, dan Kota Tasikmalaya.
Baca Juga:
Ekonomi Tumbuh 5,85%, OJK Jabar dan TPAKD Terus Dorong Akses Keuangan Masyarakat
OJK Jabar Hadirkan DIA KITA, Farhan: Literasi Keuangan Inklusif bagi Disabilitas
Berdasarkan kegiatan usaha, perbankan masih didominasi oleh jenis usaha konvensional dengan market share Aset,DPK, dan Kredit masing-masing sebesar 90,30% (Rp953 T), 89,40% (Rp671 T), dan 88,58% (Rp922 T).Adapun sisanya merupakan jenis usaha Syariah.
Berdasarkan fungsinya, perbankan di Jawa Barat per Januari 2026 didominasi oleh Bank Umum dengan market share Aset, DPK, dan Kredit masing-masing sebesar 96,76% (Rp1.021 T), 96,94% (Rp728 T), dan 97,63% (Rp1.016 T).Adapun sisanya merupakan Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS).
Per Januari 2026, total aset BPR & BPRS di Jawa Barat mencapai Rp34,24 T, tumbuh 4,92% YoY (Rp1,60 T).
Dana Pihak Ketiga (DPK) BPR & BPRS sebesar Rp22,98 T, tumbuh 6,33% YoY (Rp1,37 T).
Realisasi penyaluran kredit sebesar Rp24,69 T, tumbuh 5,99% YoY (Rp1,40 T). Rasio NPL gross BPR & BPRS di Jawa Barat menunjukan tren memburuk dari 11,86% di Januari 2025 menjadi 13,63% di Januari 2026.
Laba BPR dan BPRS mengalami penurunan pada Januari 2026 menjadi sebesar Rp0,004 T, atau turun sebesar 85,34% secara signifikan dari Rp0,03 T di Januari 2025 (turun Rp0,02 T).
Kredit UMKM di Jawa Barat 186 Triliun, dengan kontribusi terhadap nasional 12,5%, dan NPL 6,61%.
Jumlah rekening UMKM di Jawa Barat per Januari 2026 sebanyak 3.500.128. Jumlah rekening UMKM tersebut menurun 190.747 rekening (-5,17% YoY).
Lima kabupaten dan Kota penyaluran kredit UMKM terbesar di Jawa Barat adalah sbb:
- Kota Bandung sebesar Rp25,05 Triliun, sebanyak 218.500 rekening.
- Kab Bekasi sebesar Rp16,80 Triliun, sebanyak 196.814 rekening.
- Kab. Bogor sebesar Rp15,45 Triliun, sebanyak 304.192 rekening.
- Kab. Bandung sebesar Rp13,54 Triliun, sebanyak 286.407 rekening.
- Kota Bekasi sebesar Rp12,41 Triliun, sebanyak 130.457 rekening.
Per posisi Januari 2026, sebanyak 48.342 pelaku usaha di Jawa Barat telah memanfaatkan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan total penyaluran sebesar Rp3,04 T dan outstanding mencapai Rp2,94 T.
Berdasarkan skema pembiayaan, KUR untuk sektor mikro memiliki porsi yang paling besar yaitu mencapai 60,28% dari total outstanding KUR Jawa Barat, diikuti KUR Kecil (20,92%), KUR Demand Rumah (12,10%), KUR Supply Rumah (6,53%), KUR TKI (0,08%), dan KUR Super Mikro (0,08%).
Lima kabupaten dan Kota penyaluran KUR terbesar di Jawa Barat adalah sbb:
1.Kabupaten Bogor sebesar Rp266,87 Miliar, sebanyak 3.662 rekening.
2.Kabupaten Bekasi sebesar Rp235,04 Miliar, sebanyak 2.636 rekening.
3.Kabupaten Bandung sebesar Rp220,02 Miliar, sebanyak 3.831 rekening.
4.Kabupaten Garut sebesar Rp181,37 Miliar, sebanyak 3.528 rekening, dan
5.Kota Bandung sebesar Rp166,67 Miliar, sebanyak 2.457 rekening.
Tingkat inklusi masyarakat terhadap produk pasar modal mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan tercermin dari jumlah SID di Jawa Barat yang tumbuh sebesar 36,85% YoY. Perkembangan Perusahaan Pembiayaan, Modal Ventura, Fintech P2P Lending, dan Dana Pensiun (PPDP) di Jawa Barat menunjukan pertumbuhan yang bervariatif.











