JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Pemerhati budaya Bali dari berbagai latar belakang mendorong penguatan ritual adat Nangluk Merana sebagai bagian dari upaya merawat alam dan menjaga kesadaran ekologis di Pulau Dewata. Ritual ini dinilai semakin relevan di tengah kerusakan alam yang terus meningkat.
Wakil Griya Wanasari Sanur, Ida Pedanda Gede Wayahan Wanasari, menjelaskan bahwa istilah merana dalam tradisi Bali memiliki makna yang lebih luas dari sekadar penyakit atau bencana. Ia dipahami sebagai tanda terganggunya keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan kekuatan niskala.
“Nangluk Merana adalah upaya menyelaraskan kembali energi bhuta kala agar tidak menjadi sumber gangguan. Ritual ini mengajarkan bahwa alam bukan untuk ditaklukkan, tetapi disadari dan dihormati,” ujar Ida Pedanda, Minggu (21/12/2025).
Makna Ritual di Pesisir Bali
Ida Pedanda menambahkan, bahwa pelaksanaan Bhuta Yadnya di wilayah pesisir merupakan bentuk komunikasi spiritual manusia dengan alam.
Laut dipandang sebagai sumber amerta atau kesucian dan kehidupan, namun juga berpotensi menjadi sumber merana jika keharmonisannya dilanggar.
Pandangan ini menegaskan bahwa ritual adat tidak berdiri sendiri sebagai tradisi, melainkan bagian dari sistem nilai yang mengatur hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya.
Bali sebagai Satu Kesatuan Ekosistem
Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, Anak Agung Gde Ari Dwipayana, menilai penguatan ritual Nangluk Merana perlu dibarengi kesadaran kolektif untuk melihat Bali sebagai satu kesatuan ekosistem yang utuh.
Ia menekankan posisi strategis masyarakat pesisir, baik secara geografis maupun spiritual dan budaya. Menurutnya, pengelolaan wilayah pesisir harus mempertimbangkan aspek ritual, ekologi, budaya, dan ekonomi secara terpadu.
“Bali adalah Bali Dwipa. Ia tidak bisa dipotong-potong. Hulu, tengah, hingga pesisir dan laut adalah satu kesatuan. Menjaga gunung sama pentingnya dengan menjaga laut,” kata Gde.
Jro Bendesa Adat I Wayan Wisma Lebih menjelaskan, bahwa ritual Nangluk Merana telah dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat Desa Adat Lebih, khususnya setiap Tilem Kanem. Prosesi dilakukan di titik-titik strategis pesisir sebagai bentuk penjagaan wilayah secara niskala.
Ia menegaskan bahwa ritual ini tidak dapat dipisahkan dari solidaritas sosial masyarakat adat. Seluruh krama desa terlibat langsung dalam persiapan dan pelaksanaan upacara.
“Pesisir adalah benteng pulau Bali. Karena itu, desa adat memiliki tanggung jawab menjaga kesucian dan keseimbangannya melalui ritual, awig-awig, dan keterlibatan krama,” ujarnya.
Baca Juga:
Warga Sragen Wetan Geger, Arca Kuno Ditemukan Saat Renovasi Rumah
Relevansi di Tengah Krisis Iklim
Dari perspektif akademik, Dr. Pande Wayan Renawati dari Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar menilai Nangluk Merana sebagai bentuk pengetahuan ekologis lokal yang masih sangat relevan saat ini.
Ia menyoroti krisis iklim, abrasi pantai, hingga permasalahan sampah laut sebagai tantangan nyata yang dihadapi wilayah pesisir Bali. Selain itu, pergeseran profesi nelayan dan petani juga menjadi isu yang perlu direspons secara bijak.
“Ritual ini adalah pengetahuan ekologis lokal. Di dalamnya ada kesadaran siklus alam, etika lingkungan, dan kontrol diri manusia. Ini sangat relevan dengan persoalan abrasi, sampah laut, hingga perubahan mata pencaharian masyarakat pesisir,” tutur Pande Wayan Renawati.
(Dist)











