BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memperketat langkah antisipasi menghadapi musim penghujan, terutama terhadap ancaman sampah yang terbawa arus sungai dan berpotensi memicu banjir di berbagai kawasan.
Wakil Wali Kota Bandung, Erwin, mengatakan Pemkot Bandung telah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk memperkuat pengawasan dan pembersihan di titik-titik rawan tumpukan sampah, terutama di sepanjang aliran sungai.
“Kami bersama DLH berkolaborasi menjaga jangan sampai ada sampah di jalan yang terbawa arus ke sungai. Pembersihan rutin terus dilakukan agar aliran air tidak tersumbat,” kata Erwin, Kamis (23/10/2025).
Meski begitu, Erwin mengaku pengelolaan sampah masih menjadi tantangan besar. Kapasitas pengangkutan sampah kini menurun dari sekitar 1.200 ton menjadi 980 ton per hari, seiring perubahan sistem pengelolaan berbasis tonase.
“Sekarang kapasitas angkut berkurang. Oleh karena itu, kami betul-betul fokus menangani bersama-sama agar sampah tidak menumpuk dan terbawa hujan ke sungai,” ucapnya.
Baca Juga:
Uji Coba Biodigester di Pasar Gedebage, Solusi Sampah Kota Bandung Mulai Diuji Lapangan
Persoalan ini kian mendesak karena curah hujan di Bandung meningkat dalam beberapa pekan terakhir, membuat sejumlah wilayah kembali tergenang. Pemerintah tidak ingin banjir diperparah oleh tumpukan sampah yang menyumbat aliran sungai dan drainase.
Berdasarkan data DLH Kota Bandung menunjukkan, persoalan sampah sungai masih serius. Dalam satu kali aksi bersih-bersih di Sungai Cikapundung pada Juni 2024, petugas berhasil mengangkat sekitar 1,4 ton sampah hanya dalam sehari. Di Cikapundung Kolot, sampah yang terangkut mencapai 250 kilogram per hari.
Sementara laporan DLH Jawa Barat mencatat, dari 46 sungai dan anak sungai di Kota Bandung, sebagian besar berada dalam kondisi kritis akibat timbunan sampah dan sedimentasi. Total produksi sampah di Kota Bandung sendiri mencapai 1.529 ton per hari, sebagian di antaranya masih berpotensi masuk ke aliran sungai.
Erwin menjelaskan, Pemkot Bandung telah menggerakkan seluruh camat, lurah dan RW untuk ikut berkolaborasi menjaga kebersihan lingkungan. Upaya ini juga dilakukan melalui program “Mapag Hujan” gerakan gotong royong membersihkan saluran air, mengeruk sedimentasi dan menertibkan bangunan liar di atas aliran sungai.
“Kalau masyarakat sadar dan ikut menjaga kebersihan, potensi banjir bisa dikurangi dari hulu. Sungai bersih, arus lancar, dan lingkungan jadi lebih sehat,” ujarnya.
Pemkot Bandung berharap, kombinasi antara penguatan infrastruktur pengelolaan sampah dan partisipasi aktif masyarakat dapat menekan risiko banjir selama musim penghujan.
(Kyy/_Usk)











