BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Ancaman besar tengah membayangi Situs Kota Kapur, salah satu pusat warisan sejarah paling penting di Bangka Belitung. Bupati Bangka, Fery Insani, mengingatkan bahwa situs berusia ratusan tahun itu kini berada di titik kritis akibat serbuan tambang timah dan perluasan kebun sawit yang tak terkendali.
“Kondisinya sudah mengkhawatirkan. Jika tidak dihentikan sekarang, Situs Kota Kapur bisa benar-benar hilang,” ujar Fery, Selasa (2/12/2025).
Kota Kapur bukan hanya lokasi cagar budaya, tetapi juga area penting dalam sejarah maritim Indonesia. Sayangnya, nilai sejarah itu terus terkikis seiring masuknya alat berat, aktivitas penambangan, serta pembukaan lahan sawit yang merambah hingga ke inti situs.
Aktivitas penambangan timah ilegal semakin masif karena tingginya kandungan bijih timah di kawasan tersebut, terutama di pesisir timur. Sementara itu, ekspansi perkebunan sawit tak hanya menghilangkan vegetasi, tetapi juga mengancam struktur tanah dan titik-titik arkeologis penting.
Baca Juga:
Candi Jiwa Karawang, Situs Batujaya yang Masih Banyak Menyimpan Misteri
Untuk menghentikan kerusakan yang semakin luas, Pemkab Bangka mendorong peningkatan status Kota Kapur menjadi cagar budaya provinsi hingga nasional. Tujuannya agar situs tersebut memiliki payung hukum lebih kuat dan pengawasan lebih ketat.
“Kami berharap pemerintah provinsi segera menetapkan statusnya. Itu langkah mendesak agar perlindungan situs bisa diperkuat,” ujar Fery.
Bentang alam Kota Kapur yang berada di perbukitan kecil kini mulai rusak berat. Kawasan yang dulunya menjadi hulu air dan habitat vegetasi asli sudah berubah menjadi lahan tambang yang gersang.
Di beberapa titik, jejak peradaban kuno terancam tertimbun tanah galian dan kegiatan perkebunan.
Situs ini berbatasan dengan:
- Sungai Mendo (utara)
- Desa Penagan (selatan)
- Selat Bangka (barat)
- Sungai Rukam (timur)
Fery menegaskan bahwa penyelamatan Kota Kapur membutuhkan komitmen bersama, baik pemerintah, perusahaan, maupun warga. Ia berharap tidak ada lagi perluasan sawit maupun penambangan di area situs.
“Warisan ini tidak bisa tergantikan. Jika rusak, kita kehilangan sejarah yang tak dapat dibuat ulang,” tegasnya.
(Budis)











